23/06/2026
PILIH SALAH SATU: BIKIN ALASAN ATAU MENCARI JALAN KELUAR.
Seorang perempuan, curhat padaku di inbox.
Suaminya sudah meninggal sejak anaknya usia 2 tahun. Sekarang anaknya sudah umur 3,5 tahun.
Jadi selama 1,5 tahun terakhir, dia dan anaknya dihidupi oleh ayahnya yang sudah tua. Tapi sekarang ayahnya stroke.
Perempuan ini, usia 26, minta saran: pekerjaan apa yang bisa dia kerjakan untuk menafkahi dirinya, anaknya, ibunya dan ayahnya yang stroke. Dia anak tunggal. Kakaknya sudah meninggal sejak usia kuliahan.
Saat ini, katanya, dia masih mengandalkan uang tabungan ortunya… yang sekarang semakin menipis.
Karena anaknya masih kecil, aku menyarankan untuk menjual masakan, bikin kue atau cookies. Atau bikin ice cream KW, untuk dijual di sekolahan dan anak-anak kampung sekitarnya.
Dengan pancingan beberapa ide itu, aku berharap pikirannya bisa terbuka, lalu terpikir ide-ide yang lain yang lebih cocok dengan sikonnya.
Tapi dia lalu mengatakan begini:
“Tapi mbak… anak saya masih kecil… masih 3,5 tahun…”
Aku mengingatkan:
“Kan ada ibumu to? Dia bisa dititipi anakmu dulu, kalau kamu mau bebikinan.”
“Aduh… gimana ya? Soalnya anakku s**a rewel…”
Aku lalu menulis kalimat ini:
If you really want to do something, YOU WILL FIND A WAY. If you don’t, you’ll find an excuse.
Terjemahan:
Kalau kamu memang beneran niat melakukan sesuatu, kamu akan mencari jalannya. Tapi kalau nggak, kamu akan mencari alasan.
Lalu kukirimkan foto-foto di bawah ini.
Lalu kutinggal.
Na Padmo OFC
22.57, Selasa Legi
1 Kasa 2936 Jawa
23 Juni 2026 Masehi
____
:
Aku ngomong begini, bukan cuma mbacot. Aku sendiri membawa anakku kuliah (saat itu aku ngambil S2) sejak usianya 6 bulan. Lalu aku membawa dia kerja (ngajar, ngasih training, rapat dengan klien) sampai usianya 2,5 tahun.
Faktanya: dia nggak pernah rewel. Tentu saja, aku membawa semua keperluan dia: makanan, susu, mainan, keranjang tidur, gend**gan dll.
Lalu, anak-anak karyawanku yang dibawa kerja, juga nggak rewel. Tentu saja, ada tikar tempat mereka bisa tiduran dan ada mainan… juga ada cemilan dan susu.
:
Sebetulnya, rewel atau tidaknya anak, sangat terkait dengan mentalitas ortu. Ada berbagai riset di bidang Neurobiologi dan Psikologi Perkembangan yang mendukung kaitan itu.
(Saraf Cermin):
Otak anak didesain secara biologis untuk ‘menangkap’ kondisi emosional ortunya. Melalui mekanisme saraf cermin, bayi menunjukkan respons jantung yang sama dengan ibunya yang sedang stres.
Kalau ortunya penuh kecemasan, bingungan, galau dan banyak alasan, maka sistem saraf anak akan merefleksikan (mirroring) ketidakstabilan tersebut melalui perilaku rewel.
& :
Riset menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu protektif (selalu menghindarkan anak dari tantangan atau frustrasi kecil) justru menghalangi perkembangan Executive Function di otak anak.
Hal ini bisa melemahkan kemampuan anak untuk membuat keputusan, mengelola emosi (self-regulation), dan membangun resiliensi di masa depan.
:
Kesulitan ibu dalam meregulasi emosinya sendiri, akan menimbulkan perilaku destruktif atau ‘rewel’ pada anak.
Sebaliknya, ibu yang memiliki efikasi diri tinggi (keyakinan bahwa ia mampu menghadapi masalah) cenderung memiliki anak dengan kestabilan emosi yang lebih tinggi.
(Ketidakberdayaan yang Dipelajari):
Secara psikologis, jika seseorang terus-menerus didukung untuk ‘mencari alasan’ daripada ‘mencari solusi’, maka otaknya akan terbiasa dengan kondisi Learned Helplessness.
Ini adalah kondisi di mana seseorang merasa nggak punya kontrol atas hidupnya. Sikap ini kemudian diturunkan secara perilaku kepada anak melalui pola asuh yang tidak memberdayakan.
: Hubungan antara perilaku rewel anak dan stres orang tua bersifat dua arah.
Stres orang tua yang berlebihan dapat menghalangi kepekaan mereka dalam merespons kebutuhan anak, yang pada akhirnya menciptakan siklus:
anak rewel → orang tua stres → anak makin rewel.
Kesimp**an Ilmiah:
‘Energi’ atau tekad yang Ibu, sebenarnya adalah bentuk regulasi emosi dan efikasi diri.
Ketika seorang Ibu sudah bertekad bulat membawa anak dalam kegiatan produktif, Ibu itu biasanya akan menciptakan lingkungan yang stabil dan terstruktur bagi anak, yang secara biologis menenangkan sistem saraf anak-anak ini dan melatih resiliensi sejak dini.
:
Tapiiii… pengecualian tetap ada. Nggak semua anak yang rewel, disebabkan karena ibunya ‘galau’ atau nggak stabil. Nggak bisa dihakimi begitu.
Karena, ada saja anak yang bawaannya memang peka atau sensitif terhadap keramaian, terhadap banyaknya stimulus, dan suasana asing.
Intinya: tulisan ini hanya menjelaskan fenomena UMUM, yang terjadi secara mayoritas (bukan membahas hal khusus yang spesifik untuk orang per orang).
Jadi, kita pelajari apa yang bisa kita ambil untuk kita terapkan di sikon masing-masing.
Yang jelas, gambar di bawah ini menunjukkan 6 orang ibu yang membawa anaknya bekerja. Padahal sikonnya ‘keras’.
Aku bukan mau menyeragamkan, bahwa semua ibu musti kayak gitu ya.
Aku cuma mau menunjukkan fakta. Bahwa sikon bekerja sambil bawa anak itu bukan mission impossible.
22/06/2026
22/06/2026
22/06/2026
20/06/2026
20/06/2026
19/06/2026