Na Padmo OFC

Na Padmo OFC

Share

Pejalan kehidupan. Murid Semesta. Masih belajar melatih pikiran agar: harmonis, tenang-seimbang, sadar-bijaksana.

Photos from Na Padmo OFC's post 23/06/2026

PILIH SALAH SATU: BIKIN ALASAN ATAU MENCARI JALAN KELUAR.

Seorang perempuan, curhat padaku di inbox.

Suaminya sudah meninggal sejak anaknya usia 2 tahun. Sekarang anaknya sudah umur 3,5 tahun.

Jadi selama 1,5 tahun terakhir, dia dan anaknya dihidupi oleh ayahnya yang sudah tua. Tapi sekarang ayahnya stroke.

Perempuan ini, usia 26, minta saran: pekerjaan apa yang bisa dia kerjakan untuk menafkahi dirinya, anaknya, ibunya dan ayahnya yang stroke. Dia anak tunggal. Kakaknya sudah meninggal sejak usia kuliahan.

Saat ini, katanya, dia masih mengandalkan uang tabungan ortunya… yang sekarang semakin menipis.

Karena anaknya masih kecil, aku menyarankan untuk menjual masakan, bikin kue atau cookies. Atau bikin ice cream KW, untuk dijual di sekolahan dan anak-anak kampung sekitarnya.

Dengan pancingan beberapa ide itu, aku berharap pikirannya bisa terbuka, lalu terpikir ide-ide yang lain yang lebih cocok dengan sikonnya.

Tapi dia lalu mengatakan begini:

“Tapi mbak… anak saya masih kecil… masih 3,5 tahun…”

Aku mengingatkan:
“Kan ada ibumu to? Dia bisa dititipi anakmu dulu, kalau kamu mau bebikinan.”

“Aduh… gimana ya? Soalnya anakku s**a rewel…”

Aku lalu menulis kalimat ini:

If you really want to do something, YOU WILL FIND A WAY. If you don’t, you’ll find an excuse.

Terjemahan:
Kalau kamu memang beneran niat melakukan sesuatu, kamu akan mencari jalannya. Tapi kalau nggak, kamu akan mencari alasan.

Lalu kukirimkan foto-foto di bawah ini.
Lalu kutinggal.

Na Padmo OFC
22.57, Selasa Legi
1 Kasa 2936 Jawa
23 Juni 2026 Masehi

____

:

Aku ngomong begini, bukan cuma mbacot. Aku sendiri membawa anakku kuliah (saat itu aku ngambil S2) sejak usianya 6 bulan. Lalu aku membawa dia kerja (ngajar, ngasih training, rapat dengan klien) sampai usianya 2,5 tahun.

Faktanya: dia nggak pernah rewel. Tentu saja, aku membawa semua keperluan dia: makanan, susu, mainan, keranjang tidur, gend**gan dll.

Lalu, anak-anak karyawanku yang dibawa kerja, juga nggak rewel. Tentu saja, ada tikar tempat mereka bisa tiduran dan ada mainan… juga ada cemilan dan susu.

:

Sebetulnya, rewel atau tidaknya anak, sangat terkait dengan mentalitas ortu. Ada berbagai riset di bidang Neurobiologi dan Psikologi Perkembangan yang mendukung kaitan itu.

(Saraf Cermin):
Otak anak didesain secara biologis untuk ‘menangkap’ kondisi emosional ortunya. Melalui mekanisme saraf cermin, bayi menunjukkan respons jantung yang sama dengan ibunya yang sedang stres.

Kalau ortunya penuh kecemasan, bingungan, galau dan banyak alasan, maka sistem saraf anak akan merefleksikan (mirroring) ketidakstabilan tersebut melalui perilaku rewel.

& :
Riset menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu protektif (selalu menghindarkan anak dari tantangan atau frustrasi kecil) justru menghalangi perkembangan Executive Function di otak anak.

Hal ini bisa melemahkan kemampuan anak untuk membuat keputusan, mengelola emosi (self-regulation), dan membangun resiliensi di masa depan.

:
Kesulitan ibu dalam meregulasi emosinya sendiri, akan menimbulkan perilaku destruktif atau ‘rewel’ pada anak.

Sebaliknya, ibu yang memiliki efikasi diri tinggi (keyakinan bahwa ia mampu menghadapi masalah) cenderung memiliki anak dengan kestabilan emosi yang lebih tinggi.

(Ketidakberdayaan yang Dipelajari):
Secara psikologis, jika seseorang terus-menerus didukung untuk ‘mencari alasan’ daripada ‘mencari solusi’, maka otaknya akan terbiasa dengan kondisi Learned Helplessness.

Ini adalah kondisi di mana seseorang merasa nggak punya kontrol atas hidupnya. Sikap ini kemudian diturunkan secara perilaku kepada anak melalui pola asuh yang tidak memberdayakan.

: Hubungan antara perilaku rewel anak dan stres orang tua bersifat dua arah.

Stres orang tua yang berlebihan dapat menghalangi kepekaan mereka dalam merespons kebutuhan anak, yang pada akhirnya menciptakan siklus:
anak rewel → orang tua stres → anak makin rewel.

Kesimp**an Ilmiah:
‘Energi’ atau tekad yang Ibu, sebenarnya adalah bentuk regulasi emosi dan efikasi diri.

Ketika seorang Ibu sudah bertekad bulat membawa anak dalam kegiatan produktif, Ibu itu biasanya akan menciptakan lingkungan yang stabil dan terstruktur bagi anak, yang secara biologis menenangkan sistem saraf anak-anak ini dan melatih resiliensi sejak dini.

:

Tapiiii… pengecualian tetap ada. Nggak semua anak yang rewel, disebabkan karena ibunya ‘galau’ atau nggak stabil. Nggak bisa dihakimi begitu.

Karena, ada saja anak yang bawaannya memang peka atau sensitif terhadap keramaian, terhadap banyaknya stimulus, dan suasana asing.

Intinya: tulisan ini hanya menjelaskan fenomena UMUM, yang terjadi secara mayoritas (bukan membahas hal khusus yang spesifik untuk orang per orang).

Jadi, kita pelajari apa yang bisa kita ambil untuk kita terapkan di sikon masing-masing.

Yang jelas, gambar di bawah ini menunjukkan 6 orang ibu yang membawa anaknya bekerja. Padahal sikonnya ‘keras’.

Aku bukan mau menyeragamkan, bahwa semua ibu musti kayak gitu ya.

Aku cuma mau menunjukkan fakta. Bahwa sikon bekerja sambil bawa anak itu bukan mission impossible.

Photos from Na Padmo OFC's post 22/06/2026

EKSTROVERT dan INTROVERT (2)

Ada banyak orang yang, karena kurang pengetahuan, mudah sekali jatuh dalam praduga yang keliru tentang orang lain. Alias nge-judge.

Mengira orang lain malas...
Mengira anaknya tidak patuh...
Mengira suaminya tidak peka...

Aku bahkan, pernah mendengar temanku, seorang direktur (!) mengatakan padaku bahwa anak buahnya ‘yang ITU’, pemalas. Kalau kerja keliatan nggak fokus, ngobrol melulu, lalu p**angnya teng-go, belagak keliatan capeeeek sekali. Tapi nanti dipergoki sedang ngafe, dalam keadaan segar-bugar.

Aku sampai harus menjelaskan bahwa anak buahnya itu SALAH PENEMPATAN DIVISI... (penjelasan detail ada di gambar, di 3 kotak yang kecil-kecil).

Sedih banget, kalau kita nggak memahami ilmu-ilmu psikologi umum dan kemanusiaan, padahal kita bekerjasama dengan manusia-manusia lain. Itu mirip kayak kerja jadi sopir, tapi nggak paham mesin mobil. Kerja jadi koki, tapi nggak paham teknik memasak.
Jadinya ya nggak lancar…

Aku sampai pernah bilang ke anakku, bahwa MATEMATIKA DAN PSIKOLOGI itu mustinya jadi pengetahuan umum dan diajarkan sejak dari SMP sampai kuliah.

Kenapa....?
Karena di dalam hidup ini, kita bekerja itu selalu bersama manusia lain. Dan selalu perlu berhitung (mengelola data entah untuk hitungan dagang, membuat proposal, membangun pemikiran analitis, menyampaikan pemikiran secara runtut, problem solving dll... itu semua perlu logika. Dan logika dibentuk dari latihan menyelesaikan problem matematika)

Na Padmo OFC
16.50, Senin Kliwon
41 Shadda 2936 Jawa
22 Juni 2026 Masehi

_______________

Bacaan terkait:

EKSTROVERT DAN INTROVERT (1)
https://www.facebook.com/share/p/1HzbHRXCkY/?mibextid=wwXIfr

EKSTROVERT DAN INTROVERT (2)
https://www.facebook.com/share/p/1DEdn6igzB/?mibextid=wwXIfr

Photos from Na Padmo OFC's post 22/06/2026

EKSTROVERT dan INTROVERT (1)

Banyak orang memiliki pemahaman keliru tentang orang ekstrovert dan introvert.

Sembarang orang yang ramai, ramah, mudah bergaul, temannya banyak... lalu disangka ekstrovert.

Lalu yang pendiam, pemalu, agak canggung ketika berkenalan pertama kali, atau berpembawaan tenang, lantas dikira introvert.

Keliru.

Yang barusan kita bahas tadi adalah SKILL atau keterampilan sosial dan bergaul. Ada banyak orang (ekstrovert maupun introvert) yang memang belum pintar bergaul, masih belum terbiasa menjalin network.

Tapi ketiadaan skill itu, TIDAK MENCERMINKAN kepribadian orang tersebut sebagai ekstrovert dan introvert.

Jadi...?
Apa d**g yang membuat seseorang itu ekstrovert atau introvert...?

—-> dari cara mereka recharging dirinya setelah mengalami low-energy, karena bekerja seharian atau ujian seharian.

Contoh kasus:

Orang yang adalah orang yang ngecharge energinya:
• Pada keramaian.
• Pada orang lain.
• Pada teman-temannya.
Jadi jangan heran kalau kamu lihat ada orang yang habis ujian, atau habis ngelembur ngejar deadline… p**angnya malah ngemall dan ngopi rame-rame... ketawa-ketawa sampai malam.

Apa mereka nggak capek..?
Ya nggak..! Itulah cara para ekstrovert ngecharge lagi battery tubuhnya jadi full.

Sementara orang yang adalah orang yang ngecharge energinya:
• dengan menyendiri.
• stay di kamarnya.
• atau ngerokok di teras dan diemmmm aja.
Jadi jangan kamu nyinyirin temanmu yang setelah kelar jam kantor, lebih s**a p**ang ke rumah, untuk rebahan. Kaum introvert bukannya nggak mau ikutan networking atau nggak mau ngafe. Mereka sudah low batt, karena seharian ketemu orang di kantor dan di rapat-rapat.

Dan setelah sampai rumahpun, orang introvert: biasanya nggak mau diganggu dulu oleh istri atau anak. Batterynya low parah... dan kalau disambut oleh istri yang bawel dan banyak ngeluh soal ART dan anak.... jangan heran kalau pasanganmu malah mengunci diri di WC berlama-lama... atau malah pergi lagi. Sekedar bengong ngerokok di ujung gang atau gitaran sendirian di gardu hansip.

Perbedaan kepribadian ini, banyak membuat rumah tangga agak runyam juga.

Jika istrinya yang IRT full itu adalah ekstrovert, sementara suaminya introvert.... maka keributan menjelang weekend adalah:
• suaminya pingin tiduuuuuurrrr...
• sementara istrinya pengen jalaaaaan...!

Siapa yang harus ngalah..?
NGGAK ADA...!!!

Karena suami itu bener-bener lowbatt, setelah seminggu kerja. Dia butuh ngecharge. Kejam sekali kita, kalau memaksa tubuh yang low batt itu untuk cerah ceria nganterin anak-istri jalan-jalan ke mall. Diporotin p**a.

Dan juga kejam sekali kalau memaksa istri yang sudah lowbatt karena ngurus anak dan rumah selama seminggu, untuk tinggal di rumah. Padahal dia butuh ngecharge energinya di keramaian.. ke mall ke taman... atau arisan dengan teman-teman.

****

Aku ini introvert. Anakku juga.

Kalau sudah 3 hari berturut-turut rapat ketemu orang (atau menerima teman nginap di rumah) aku betul-betul lelaaaaaaah sekali...!

Perlu segera ‘recharge’. Paling tidak di kamar, nggak diganggu orang lain. Termasuk anak. Dan mematikan telpon.

Padahal secara luar, aku tampak seperti ekstrovert ya...? Aku juga mudah akrab dengan orang baru, berani tampil dan spontan kalau diminta bicara di podium dll.
Nah ini sebetulnya adalah skill. Hasil pengalaman bertahun-tahun bekerja dan bersosialisasi. Hasil training leadership juga. Jadi aku tahu gimana musti public speaking.

Nah, tapiiii… meskipun aku sudah skillful gaul serta mudah tampil di muka umum, pola dasarku dalam mencari energi kalau sudah lowbatt, tetap introvert.

Aku lebih nyaman kalau sendirian....
nonton bioskop sendiri.... makan ke restoran juga sendiri. Sama sekali nggak kesepian, apalagi menderita.

Kalau anakku dan aku lagi hangout bareng, kami bisa ngobroooool sampai subuh. Tapi juga nyaman aja kalau sambil diem-dieman. Asyik dalam keheningan masing-masing.

Orang ekstrovert akan mengira aku kesepian, kalau melihatku jalan sendirian. Lalu berbaik
hati menawarkan diri untuk nemenin. Padahal ya Tuhaaaaan aku malah sebal kalau ‘ditemenin’ dan orang itu ceriwis berusaha membangkitkan pembicaraan
🤦🏽‍♀️🤦🏽‍♀️🤦🏽‍♀️😅😅😅😅

Bagiku, diving dan meditasi adalah cara paling sempurna untuk ngecharge...

Bahagia dan puasnya tak terkatakan....

Jadi, kalau kalian menemukanku sedang duduk mojok, ngopi sendirian. Please, JANGAN DITEMENIN...! Itu aku sedang butuh ngecharge. Bukan gaul.

Orang model aku jarang (malah seingatku, belum pernah) ngalamin kesepian.
🙂

Na Padmo OFC
16.45, Senin Kliwon
41 Shadda 2936 Jawa
22 Juni 2026 Masehi

_______________

Bacaan terkait:

EKSTROVERT DAN INTROVERT (1)
https://www.facebook.com/share/p/1HzbHRXCkY/?mibextid=wwXIfr

EKSTROVERT DAN INTROVERT (2)
https://www.facebook.com/share/p/1DEdn6igzB/?mibextid=wwXIfr

22/06/2026

‘HEALING’ TANPA TRAVELING.

Aku dan temanku ini, sama-sama introvert.
Tapi kami adalah introvert yang nekat: sama-sama bekerja sebagai trainer dan counselor (dia psikolog, btw) .

Akibatnya?
Setiap habis ngajar, kami tepar. Ketemu orang segitu banyak, energi kami jadi kering.

Dulu, kami pernah liburan ke Yogyakarta. Ceritanya, pingin ‘healing’. Tapi entah gimana, kami asik ngobrol. Membahas buku, penelitian, makna kehidupan, kasus-kasus psikologi…. Sampai akhirnya kami sadar!

“Lho! Dari kemarin, kita belum keluar buat jalan-jalan lho!”

Kami ketawa, karena baru sadar: Introvert itu ternyata nggak perlu pergi kemana-mana buat ‘healing’.
Yang kami butuhkan cuma: sesama introvert yang minatnya sama. Cemilan sekedarnya, kopi atau teh. Dan ruangan yang hening.

Kaum introvert yang bertipe ‘thinking’, nggak butuh liburan untuk pulih. Kami butuh percakapan yang ‘nyambung’ dan meregenerasi kognitif… Semacam isi ulang otak…

Nggak tahu kalau introvert yang bertipe ‘feeling’… sama kah?

21/06/2026

SUP GAMPANG SEHAT ENAK DAHLAH

Rasa gurih di kuahnya cukup pekat, kayak kuah indomi. Jadi, sup ini NGGAK perlu dikasih kaldu jamur atau kaldu ayam atau kaldu sapi. Apalagi MSG.

Bumbunya cukup
• garam,
• merica
• minyak bawang putih untuk menumis telur dan udang

BAHAN:
4 ekor udang pancet (harus segar ya! Jangan pakai udang bekuan, biar nggak amis)
4 butir telur
6 jamur shiitake (aku pakai yang segar, bukan kering)
1 Liter air
1 pack jamur salju
5-6 cabe rawit merah utuh
Segenggam brokoli
1/2 tomat
1 lembar daun bawang

CARA MASAK:
1. Panaskan minyak bawang.
2. Goreng telur, orak arik sampai matang, sisihkan. Harus sampai matang ya. Biar nggak amis
3. Tumis udang sampai matang (udangnya harus segar. Dan ditumis sampai matang. Biar nggak amis)
4. Masukkan jamur shiitake dan cabe rawit utuh. Tumis shiitake sampai matang, dan keliatan glossy. Supaya minyak jamurnya keluar. Cita rasa umami, nampol.
5. Masukkan kembali telur
6. Tuang 1 liter air
7. Masukkan jamur salju dan brokoli.
8. Aduk-aduk, tutup. Biarkan sampai mendidih dan matang.
9. Setelah matang, bubuhi garam dan merica, aduk rata.
10. Masukkan tomat dan daun bawang.

Sajikan. Bisa untuk 3 porsi

:
Paling enak, dimakan panas-panas dan diberi CHOP (Chili Oil Premium) ciptaanku. Kapan-kapan kubocorin resepnya.

Catatan lagi:
Kalau mau lebih nampol:
1️⃣. Tambahin jahe yang diiris kayak korek api.
Ditumis bareng udang.
2️⃣. Tambahin kecap ikan (1 sendok makan) saat sup sudah matang, air mendidih, dan siap angkat.

***************

1 panci itu, kandungan gizinya:

Kalori: 510 kkal
Protein: 48g
Lemak: 24g
Karbo: 18g
Serat: 12g
Garam: 2100mg

Kalau kita makan 1 panci itu sendirian… kalorinya lebih kecil daripada makan 2 piring nasi.

1 porsi nasi (200gram) = 260 kalori
Kalo makan 2 piring nasi = 520 kalori

20/06/2026

MENONTON ‘MUSUH’ KIRAB MENUJU JURANG…

Sejak kecil…
Aku mengamati bagaimana cara ortuku melakukan
‘pembiaran’ pada beberapa ART ‘tertentu’, driver ‘tertentu’, dan pekerja kebun ‘tertentu’.

Awalnya aku heran, kok beberapa pegawai lain malah ditegur dan diarahkan secara tenang dan rasional ketika mereka melakukan kesalahan?
Kok mereka dibimbing agar jadi semakin bagus?
Kok sebagian di antara mereka bahkan disekolahkan tinggi, jadi sarjana, perawat, dan baby sitter bersertifikat?

Tapi ada beberapa orang ‘tertentu’ itu yang sejak awal dibiarkan. Lalu, aku melihat, mereka ini SELALU semakin ngelunjak. Semakin ngawur. Dan semakin banyak melakukan pelanggaran.

Setelah kesalahannya banyak, baru deh dipecat, berdasarkan daftar panjang kesalahan.

Pemecatan yang telak. Nggak bisa dibantah, karena bukti-bukti sudah banyak.

Bahkan, orang-orang lain pun (tetangga, hansip kompleks, pembantu dan sopir tetangga) ikut lega.

Sebagian berkata padaku: “Akhirnya dipecat juga ya dia/mereka? Kami sudah nggak tahan lho lihatnya. Kami pikir orang tuamu nggak tahu kelakuan dia/mereka…”

******************

Sejak itu aku jadi ‘peka’.
Selalu siaga, kalau ngeliat ada orang yang kelakuannya ‘nggak banget’ tapi kok dibiarkan…
Apalagi, manajemen di beberapa perusahaan tempatku bekerja, ternyata melakukan strategi itu juga.

Salah satu direktur, pernah menyebutkan nama strategi ini di sebuah rapat:

1️⃣. Set-up-to-fail (Disetting untuk gagal)

• Seorang eksekutif bekerja tanpa dukungan
• Ditunggu sampai performanya memburuk
• Lalu wan-prestasi itu dipakai sebagai alasan ‘objektif’ untuk menyingkirkan dia

atau, skenario lain:
• Dikasih jabatan yang nggak sesuai kompetensinya
• Ketika gagal, posisinya digeser

___

Dalam percakapan dengan ibu-ibu arisan kalangan ‘pejabat’, aku nguping strategi yang mirip:

2️⃣. Menjebak Pakai Strategi Pasif

• istri-istri tahu kelakuan suaminya yang nyeleweng.
• tapi istri-istri ini nggak bertindak
• malah membuat suami-suaminya merasa ‘istrinya nggak tahu’
• padahal istrinya sudah menyewa profesional untuk membuntuti, sampai diperoleh bukti-bukti kuat bahwa suaminya sudah menikah siri
• semua bukti terdokumentasi
• lalu setumpuk bukti itu, diancamkan ke suami. Untuk dilaporkan ke atasan.

Tujuannya? Suaminya menceraikan istri siri.
Efektif. Cespleng. Tanpa drama.

Wah zaman Orde Baru, PP 10/1983 (lalu diperketat dengan PP 45/1990) itu sakti banget. Bahkan, suaminya kawan mainku sendiri, jabatannya pernah diturunkan 2 level, atas dasar pelaporan ini.
____

Dalam percakapan sehari-hari, kita punya istilah:

3️⃣. ‘Dibiarkan menggali kuburnya sendiri’. Atau bahasa Inggrisnya: letting them hang themselves.

Atau istilah yang lebih ‘berbau management’: manufacturing legitimacy for removal.
(Memfabrikasi keabsahan untuk menyingkirkan)

******************

Setelah aku sendiri bekerja sebagai Career Counselor di HRD sebuah perusahaan nasional dengan ribuan karyawan, aku (lebih tepat: kami) melakukan strategi tersebut.

Tapi khusus terhadap karyawan yang ‘nggak punya potensi untuk dibina’ (dan akan terlalu mahal investasinya, kalau men-training karyawan ‘kayak mereka’).

Jadi, hanya karyawan potensial saja yang akan dibina.

Cara paling ‘pasif’ tapi sangat efektif adalah, begini:

Para ‘target’ dibiarkan melakukan mark up, telat terus, bahkan dibiarkan melakukan kirab dan sorak-sorai kerusuhan, padahal di ujung, rutenya jelas-jelas menuju jurang…

Strategi ini disebut:
• Calculated Passivity (Kepasifan yang Terkalkulasi).

Skenarionya simpel:
allow escalation → legitimized removal.

Pembersihan badut-badut dan begundal kantor secara sah dan sesuai aturan. Clean. Effective.

******************

Sampai di sini, aku ngebatin: para politisi tua-tua nan uzur itu, apa nggak paham ya, tentang strategi ini?

Masak mereka nggak sadar kalau sedang dibiarkan merasa ‘di atas angin’…? Lantas malah mempertontonkan sikap childish mereka…? Sebagian malah membuka topeng mereka sendiri…

Dan seluruh Rakyat menontonnya dengan gamblang.
Rakyat yang memilih menjadi Silent Majority.

Na Padmo OFC
01.11, Minggu Wage
40 Shadda 2936 Jawa
21 Juni 2026 Masehi

20/06/2026

KALAU MENTAL LAGI NGGAK FIT, TUHAN PUN DIANGGAP NGGAK BECUS MENGURUS DUNIA…

:
Dulu waktu aku pertama kali dirujuk ke psikiater oleh dokter umum di puskesmas tempat aku berobat, ibuku ngamuk besar. Katanya aku sakit mengada-ngada.

Dua bulan lalu anakku ngamuk, emosinya terlihat tidak stabil mungkin karena tekanan pekerjaan. Kuseret dia ke psikolog secepatnya. Dan kemudian anakku berterima kasih padaku.

:
Iya mbak. Ortu jaman dulu itu, belum banyak yang paham soal kesehatan mental.

Mereka masih harafiah: kalau nggak kelihatan berdarah atau nggak kelihatan patah tulang atau nggak kelihatan lemas dan lumpuh…. Mereka anggap orang itu sehat.

Padahal, manusia kan bukan cuma terdiri dari fisik saja… tapi juga terdiri dari mental dan emosional.

Mereka nggak paham bahwa:
• fisik
• emosional
• mental
Itu bisa ‘nggak fit’.
Bisa ‘nggak beres’.
Bisa ‘sakit’.

*********

Teman-teman, coba kita ingat-ingat:
Kalau secara emosional, kita sedang nggak mood… biasanya kita NGGAK AKAN merasa antusias untuk melakukan kegiatan apapun. Kalau toh pergi kerja, itu pasti karena memaksakan diri…

Begitu juga dengan kesehatan mental. Kalau kita nggak fit secara mental, kita akan merasa hidup ini berat…
tuntutan boss itu terlalu tinggi…
pasangan hidup kita itu nyebelin banget…
karyawan kok goblok semua…
pemerintah itu salah terus…
mana? Nggak ada satupun pejabat yang becus…

Intinya: hidup jadi nggak asik kalau kita nggak fit secara fisik, mental, dan emosional.

Bahkan, Tuhan pun bisa dianggap nggak becus mengurus dunia, kok membiarkan ketidakadilan dan penderitaan manusia.

**********

Ngobrol-ngobrol soal stigma dan ketidakpahaman tentang kesehatan emosional ini… juga dialami oleh keluargaku sendiri. Salah satunya adalah Budeku.

Aku punya Bude yang pemarah.
Kerjaannya ngomeeeeeel terus. Dan kalau marah: teriak-teriak dan bentak-bentak dengan volume ala sound horeg.

Dia ini pengusaha. (Dianya yang pengusaha; bukan suaminya ya). Dan pengusaha yang sukses p**a, sampai punya beberapa jenis usaha dan kapal segala.

Semasa kecil, aku pernah dititipkan ortuku di rumahnya selama 4-6 bulan, karena ‘ngejar’ semesteran sekolah. (Ceritanya: ortuku akan pindah ke kota X. Nah aku dikirim duluan ke kota X ini, karena Tahun Ajaran Baru sekolah sudah berjalan. Jadi aku bisa sekolah sejak awal semester).

Karena sejak kecil, aku sudah s**a mengamati… aku tahu bahwa Budeku ini, SEBETULNYA, baik hati:
• anak bungsunya Pakde (adik si Bude) yang terabaikan, diadopsi oleh Bude lantaran adiknya si Bude sudah kewalahan menafkahi 6 orang anak.
• pegawai yang hamil di luar nikah, dia tampung termasuk bayinya. Diomelin habis-habisan, sih. Tapi ditampung, diberi tempat layak, dan bayinya dibiayai penuh layaknya cucu sendiri.
• sepupuku yang lain, yang sering digebuki oleh ibunya, diambil oleh Budeku. Diselamatkan dari kekejaman fisik ortunya sendiri.

Rumahnya jadi kayak rumah rescue yang dimiliki oleh animal lover: rameeeee banget. Isinya bukan cuma keponakan kandung, tapi juga anak-anak karyawan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Mereka ditampung juga, sehingga ibunya bisa tenang bekerja.

Aku sampai ‘melihat’ kami semua yang ada di rumah ini, kayak kucing-kucing yang diambilnya dari comberan 🤭🤣
Sering diomelin kalau berisik, diteriakin kalau belum mandi atau nggak belajar. Tapi kami dikasih makan, diperhatikan sekolahnya, dan kadang dielus.

Bude nggak pernah marah secara fisik. Juga, secara verbal nggak pernah menyakiti (nggak menghina, nggak memaki)….
Cuma ngomel dengan volume menggelegar aja.
Misalnya begini:
“Kamu ini, kalo malas belajar, mau jadi apa??? Orang itu modalnya adalah ilmu. Kamu kan nggak kusuruh nyapu ngepel di sini! Kalo lapar tinggal makan. Kalo ngantuk tinggal tidur. Tugasmu itu cuma belajar. Cuma dikasih tugas satu saja kok ya nggak becus dikerjakan! Sini, ambil bukumu…!!! Aku tanya-tanya!!!”

Kami nggak ada yang mau ‘ditebak-tebakin pelajaran’ sama Bude. Bukan apa-apa… hahaha. Soalnya, suaranya bikin budeg. Suara beliau itu, bisa kedengeran sampai ke jalan raya. Kebayang kan kalau mulutnya cuma berjarak 60 cm dari kuping kita?

Hahahaha

**********

Nah, setelah aku dewasa, aku semakin tahu bahwa Budeku ini sebetulnya adalah perempuan berhati lunak. Dia mirip seperti molusca.

Apa itu molusca?
Semua hewan lunak seperti kerang, bekicot, ubur-ubur… Mereka semua memiliki cangkang yang tebal dan keras, atau memiliki sengatan yang panas (ubur-ubur) sebagai perlindungan diri.

Bahkan, semua organ tubuh yang lunak (yaitu jantung, hati, paru-paru) pun dilindungi oleh tulang kerangka dada kan?

Nah, Budeku itu juga ‘Molusca’.
Dia membangun benteng tebal untuk melindunginya dari ‘kerasnya’ dunia….

Caranya?
Ya dengan cara: menjadi galak luar biasa sebagai kompensasi perlindungan diri. Meskipun sebetulnya, dia berhati malaikat. Banyak sekali jasanya bagi hidup orang lain.

Ketika dia menua, emosinya itu menggerogoti kesehatannya. Nggak usah ditanya deh soal tensi dan kolesterol. Bahkan tulang-tulangnya pun linu semua…

Di saat itu, dia datang padaku untuk dibacakan tarot. Saat itu aku sudah jadi ibu-ibu dengan 1 anak.

Seumur hidupku, baru kali itu aku melihat Budeku menangis…

Dari tebaran tarot, terlihat sekali, betapa dia menanggung beban ‘Harus Kuat’ itu sejak dia balita: menjadi anak sulung dari 12 bersaudara, yang lahir jauh sebelum negeri ini merdeka. Lahir dari keluarga rakyat jelata p**a… Mengurus adik-adik sudah menjadi kewajibannya. Sampai mengalami kelelahan mental dan tekanan psikologis yang berat

Tapi, seperti lazimnya ‘Generasi Silent’, Bude punya keyakinan: cuma orang sakit jiwa yang pergi ke Psikolog dan Psikiater.

“Aku ora gendeng.” Katanya. Lalu diapun melanjutkan hidupnya…

Semakin tua, beliau menjadi semakin sinis. Sudah tidak meledak-ledak lagi, tapi jadi negatif:
• diajak jalan-jalan ke Lourdes. Waktu semua memuji ‘indahnya suasana’… Bude nyeletuk: tapi banyak turis. Suasana khusuknya nggak ada.
• diajak jalan-jalan ke Amerika, mengkritik: negara apaaa, ini. Katanya negara maju. Tapi kok banyak gelandangan.
• diajak makan steak wagyu level 5, menilai: makan daging aja kok mahal amat (padahal dia kaya raya, dan dinner kali itu, bukan dia yang bayar).

Memiliki harta sebesar yang dipunyainya…
Dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya karena jasa-jasanya…
Dengan suami yang ngemong, memahami dia dan setia…
Dan semua anak menantu cucu yang rukun sehat dan hidup baik…
Dia nggak terlihat bahagia. Semuanya terlihat ada kurangnya. Semuanya terlihat nggak bagus.

Aku nggak tahu, gimana hari-hari terakhirnya. Apakah suasana emosi seperti itu, dibawanya sampai ke liang kubur…?

Semoga dia sempat berdamai dan membangun POV yang lebih positif terhadap dunia ya..

Semoga terlahir kembali menjadi Generasi Alpha yang paham tentang pentingnya Kesehatan Mental…

Dan jika di kehidupan berikutnya ini dia masih membawa ‘residu’ beban mental dan emosional, semoga dia melakukan terapi-terapi yang dibutuhkannya untuk mengembangkan diri menjadi insan yang seimbang, harmonis, dan bahagia.

Na Padmo OFC
14.45, Sabtu Pon
39 Shadda 2936 Jawa
20 Juni 2026 Masehi

19/06/2026

NEURO SURROGATE THERAPY.

Aku mau cerita, tentang tiga kisah yang membuatku sendiri terharu dan bahagia, tercampur menjadi satu ketika melihat kasus ini berhasil dengan baik.

DISCLAIMER :
Semuanya adalah kisah nyata, namun sudah kuubah nama, detail kisah dan lain-lainnya, untuk menjaga kerahasiaan klien.

,
seorang kawan medsos menghubungi aku melalui inbox. Seorang ibu berhijab yang panik karena anak lelakinya 'menghilangkan diri' setelah bergabung dengan kelompok fundamentalis. Semua kontak ditutup oleh pemuda tampan yang berkuliah di universitas mentereng ini.

"Ini ikhtiar saya karena sudah putus asa mbak. Mohon maaf, seharusnya saya tidak bertanya melalui tarot karena ajaran agama saya, tetapi saya percaya pada mbak Nana. Bisakah anak saya kembali? Apa yang harus kami lakukan?"

Singkat cerita, melalui tarot, kami melihat peluang pemuda ini bisa kembali ke keluarganya. Namun perlu dibantu oleh ikatan batin ortunya.

Akhirnya kami melibatkan Coach Awie Suwandi dalam proses berikutnya, setelah sesi konsultasi tarot selesai dilakukan.

Pada meeting selanjutnya, yang dilakukan melalui zoom, hadir Bapak Ahmad dan Bu Ahmad (kita sebut saja begitu ya), Ade Sikado, dan aku. Meeting ini dipimpin oleh Coach Awie.

Pada meeting ini, diputuskan untuk melakukan pendekatan yang disebut sebagai , yaitu sebuah upaya bicara dari 'soul to soul' antara ibu dan anak.

Kenapa ibu; bukannya ayah?

Karena biasanya, yang memiliki ikatan batin kuat dengan anak-anak adalah ibu. Semata karena anak-anak ini pernah ada di dalam kandungannya.

Namun, kami melihat bahwa Bu Ahmad dalam keadaan emosi yang tidak memadai karena beliau kelewat panik, sangat sedih dan terpukul. Padahal, secara 'spiritual', Bu Ahmad ini memiliki medan energy yang besar karena ibadahnya tekun, tidak pernah putus sholat 5 waktunya.

Akhirnya disepakati, ayahnya lah yang akan menjadi surrogate bagi anak lelaki ini. Karena secara emosional, Pak Ahmad lebih tenang dan stabil.

Total, pak Ahmad mendapatkan 3 kali terapi seminggu sekali. Dan di antara 3 minggu itu, pak Ahmad melakukan terapi secara mandiri setiap hari, dengan dibantu oleh rekaman dari Coach Awie.

Jadi ada dua jenis ikhtiar yang dilakukan: diterapi secara online dan melakukan terapi sendiri (terapi mandiri ini dilakukan terus SETIAP HARI, setelah 3 sesi terapi).

Sebulan berlalu tanpa ada tanda-tanda apapun, tetapi pak Ahmad tekun melakukan terapi mandiri, sambil sesekali berdiskusi dan mendapat arahan dari coach Awie melalui percakapan WA dan telepon.

Tahu-tahu, di hari ke 32, si pemuda menghubungi ayahnya...! Ini ajaib…!!! Karena sejak kecil, orang yang biasanya dia cari adalah ibunya!

Dalam keadaan panik, namun kali ini diiringi perasaan gembira, pak Ahmad dan bu Ahmad menghubungi kami kembali.

"Apa yang harus kami katakan? Apa langkah berikutnya? Kami tidak mau sembrono atau salah omong, nanti anak kami menjauh lagi...”

Apa yang terjadi, teman-teman...?
Adalah proses yang seru sekali.
Ibu Ahmad yang kini sudah kembali semangatnya, ikut bergabung dalam ini.

Jadi, satu anak lelaki 'diselimuti' oleh cinta dan dukungan komplit dari ayah dan ibunya... untuk 'dituntun' p**ang.

BERHASIL...! 🥹🥹😍😍

Metoda yang sama, pernah dipakai juga bagi anak perempuan yang 'dibawa lari' untuk menjauh dari keluarga kandungnya, oleh suaminya yang dominan, posesif, dan punya pandangan agama yang juga 'ekstrem'. Akhirnya, berhasil juga kembali terhubung dengan keluarga besar.

***************


Seorang pengusaha menghubungi admin Garuda Amerta Consulting. Minta dihubungkan dengan Coach Awie.

Anak sulung mereka, kita sebut saja 'Alvin', seorang lelaki usia 40-an yang sudah menikah, dan kini memegang sebagian urusan perusahaan keluarga, mengalami kejadian aneh.

Menurut ortunya, Alvin seperti orang yang terkena guna-guna, karena tiba-tiba diam saja, lalu tiba-tiba marah-marah, lalu teriak-teriak akan mengancam bunuh diri.

Setelah 'diperiksa' oleh Coach Awie ternyata tidak ditemukan adanya energi 'santet'.

Namun untuk memastikan, sebagai second opinion, kami diminta membuka tarot oleh Coach Awie.

Hasilnya sama: apa yang dialami oleh Alvin ini murni masalah medis psikologis. Nggak ada unsur ‘magis’nya.

Tetapi gimana membawa Alvin berobat?
Lelaki dewasa ini berkeras mengunci diri di kamar. Tidak mau bertemu siapapun, termasuk istrinya yang terpaksa tidur di kamar anak-anak selama seminggu.

Alvin juga tidak mau mandi. Namun diam-diam keluar kamar pada tengah malam, ketika semua sudah tidur, untuk menggeratak isi kulkas. Cari makanan.

Beruntung, istrinya bijak: di hari berikutnya selalu ditinggalkan lauk-pauk lengkap dengan gizi seimbang di meja makan, di dalam mesin penghangat.

Akhirnya, dilakukan upaya pada mamanya Alvin.

Baru tiga kali terapi, Alvin tiba-tiba menghubungi mamanya! Istri pengusaha ini dicurhati macam-macam oleh Alvin.

Dengan perlahan-lahan, pada curhatan beberapa hari kemudian, mamanya Alvin mulai mengarahkan Alvin untuk mau berobat dan menjalani terapi ke psikiater.

Pancingan ini berhasil!
Alvin mau berobat.

Saat ini Alvin sudah membaik, diterapi oleh psikiater pilihan keluarganya, sementara mamanya Alvin terus mendukung Alvin secara tidak langsung melalui yang dipandu oleh coach Awie.

*******************


Seorang ibu, awalnya berkonsultasi tarot kepada kami, menanyakan Numerologi dan Life Purpose untuk ketiga anaknya, yang kebetulan perempuan semua, berusia 17, 21 dan 23 tahun.

Ibu yang single parent ini berjuang menghidupi anak-anaknya sendirian, setelah suaminya meninggal pada saat anak-anak masih usia SD.

Pada konsultasi ini, dideteksi anak kedua mengalami kekosongan batin yang luar biasa karena ketidakhadiran ayah. Kami melihat indikasi: pemuda yang sekarang ini menjadi pacarnya, sudah memanip**asinya secara psikologis dan seksual.

Besar kemungkinan anak gadis ini akan hamil di luar nikah, jika dibiarkan pacaran terus dengan pemuda ini. Dan jika menikah kelak, pun akan mengalami KDRT oleh pemuda ini.

Terperanjat, klien kami membenarkan bacaan tarot ini. Dia memang melihat anak tengahnya ini bucin banget, sementara cowonya kelihatan ‘butuh nggak butuh’, menyepelekan gadis ini, dan kerap bersikap kasar.

Lalu bagaimana?

Dilakukanlah untuk mengisi kekosongan batin si gadis usia 21 ini. Agar dipenuhi dengan cinta. Nenek dan kakek si gadis juga terlibat dalam proses ini.

Intinya, mereka semua berusaha mengisi seluruh relung jiwa si anak gadis agar penuh dengan cinta.

Apa yang terjadi?
Si gadis tiba-tiba tersadar bahwa dia layak dicintai. Dia sadar bahwa dia layak diperlakukan baik.
Dan dia, dengan gagah berani memutuskan pacarnya serta menutup semua jalur komunikasi.

Total!

Padahal ibu, nenek dan kakeknya tidak menasihati apapun, dan tidak membocorkan keberadaan terapi ini.

Belakangan, gadis itu berkata kepada ibunya, bahwa dia tiba-tiba tersadar saja. Dan dia tidak merasakan sedih atau kehilangan, setelah putus cinta.

Bagus! 👏🏻👏🏻👏🏻

********

Jadi kawan-kawan, dari 3 kisah ini, kawan-kawan bisa melihat bahwa Garuda Amerta Consulting adalah lembaga yang membuka diri pada berbagai pendekatan dan metode, termasuk bekerja sama dengan kalangan ilmuwan dan medis barat.

Prinsip kami adalah client centered!
Yang penting adalah: klien terbantu.

Tidak penting, apakah yang berperan adalah sepenuhnya science atau sepenuhnya pseudoscience. Atau paduan dari semua metode yang ada.

Satu lagi kuncinya :
hanya bisa dilakukan oleh orang tua (ortu) yang:
1️⃣. Sudah ‘selesai’ dengan dirinya.
2️⃣. Sudah ‘selesai’ dari trauma-traumanya.
3️⃣. Memiliki ego yang sehat.

Terapi ini:
• TIDAK BISA dipakai untuk mendominasi anak.
• TIDAK BISA dipakai untuk menggiring anak agar menuruti kehendak ortu.
• TIDAK BISA dipakai untuk menjauhkan seseorang dari Life Purposenya (misanya: mustinya menjadi biarawan, tetapi dipaksa menjadi dokter, atau membuat anaknya menikah dengan pilihan ortu), atau niatan yang semacam itu.

Bagaimana jika ortunya masih 'kacau'?
Ya mau nggak mau, ortunya yang dibantu duluan. Alias: diterapi duluan. Karena hanya ortu yang mantab dan kokoh, yang bisa menolong anak-anaknya.

Jika membutuhkan layanan ini, dapat menghubungi admin di: 0813 8080 5762 (WA)

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address

Jakarta