02/06/2026
Masa-masa di sekolah ini penuh dengan cerita, mulai dari canda tawa hingga perjuangan menyelesaikan tugas. Jangan jadikan perpisahan ini sebagai akhir dari kebersamaan, melainkan awal untuk bertemu kembali di masa depan dengan kesuksesan yang telah kalian raih."Kelulusan ini adalah bukti kerja keras dan dedikasi kalian selama tiga tahun. Perjuangan belum selesai, langkah kalian masih panjang. Tetaplah bermimpi besar, berani menghadapi tantangan, dan jadilah versi terbaik dari diri kalian di jenjang yang lebih tinggi."Dan jangan lupa Almamater SMP Negeri 4 Arso Official 🙏🏼💪 Doa Bpk Ibu Guru selalu Menyertai kalian dimanapun kalian Berada.
03/05/2026
Latepost 🙏🏼
Sabtu 2Mei 2026
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026! Mari jadikan momentum ini untuk memperkuat semangat belajar dan mengajar, mewujudkan pendidikan bermutu yang inklusif, serta mencetak generasi cerdas, kreatif, dan berkarakter menuju Indonesia Emas.
Guru hebat bukan yang paling pintar, tetapi yang paling menginspirasi. Teruslah menebar ilmu dan menjadi teladan, Selamat Hari Pendidikan Nasional!"."Di balik senyummu yang lembut, tersimpan kekuatan yang membesarkan generasi demi generasi. Terima kasih, Guru!".
Dihari Istimewa kepsek SMP Negeri 4 Arso Official Mendapat penghargaan Atas Dedikasi & Pengabdian Memajukan Pendidikan di kabupaten Keerom & Peserta Didik Mendapat Juara 3 Terbaik Tari Kreasi Tingkat Provinsi & Terimakasih Bpk Bupati Keerom karena 2 Guru kami mendapat 2 Kupon doorprize
Hadia TV 32 dan Mixser🤲🙏🏼
01/05/2026
Fajar ditaman Siswa..
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang lebih kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara, adalah sosok yang membuktikan bahwa pena dan pemikiran bisa jauh lebih tajam daripada sebilah pedang.
​Berikut adalah narasi perjuangan beliau yang merangkul semangat kemerdekaan melalui pendidikan:
​✔️Perlawanan Melalui Tulisan.
​Perjuangan Ki Hajar Dewantara tidak dimulai di medan perang, melainkan di balik meja redaksi. Sebagai jurnalis yang kritis, ia berani menyentil pemerintah Hindia Belanda.
​Puncaknya adalah saat ia menulis artikel fenomenal berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) pada tahun 1913. Ia memprotes rencana Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaannya dari Prancis dengan memungut biaya dari rakyat Indonesia—bangsa yang justru mereka jajah.
​"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan merayakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya."
​Tulisan pedas ini membuatnya dianggap berbahaya dan akhirnya dibuang (diasingkan) ke Belanda.
​✔️Masa Pengasingan.
Mengasah Senjata Intelektual
​Alih-alih patah semangat, masa pengasingan di Belanda justru menjadi kesempatan emas bagi Soewardi. Di sana, ia mendalami dunia pendidikan dan meraih sertifikat Europeesche Akte. Ia belajar dari tokoh-tokoh pendidikan dunia seperti Montessori dan Froebel.
​Di sinilah lahir sebuah kesadaran baru: Kemerdekaan bangsa hanya bisa diraih secara hakiki jika rakyatnya dididik menjadi manusia yang merdeka secara batin dan pikiran.
​✔️ Lahirnya Taman Siswa.
​Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1922, ia menanggalkan gelar kebangsawanannya agar bisa lebih dekat dengan rakyat jelata. Ia mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara.
​Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta. Di masa itu, pendidikan adalah barang mewah yang hanya bisa dinikmati anak-anak bangsawan atau pejabat Belanda. Taman Siswa mendobrak tembok itu, memberikan kesempatan bagi anak-anak pribumi untuk bersekolah.
​✔️Melawan "Ordonansi Sekolah Liar".
​Perjuangan beliau tidak berjalan mulus. Pada tahun 1932, Belanda mengeluarkan Wilde Scholen Ordonnantie (Undang-Undang Sekolah Liar) untuk menutup sekolah-sekolah swasta yang tidak berizin Belanda, termasuk Taman Siswa.
​Ki Hajar melakukan perlawanan non-kooperatif. Beliau memimpin aksi protes massal dan mengirim telegram kepada Gubernur Jenderal Belanda, menyatakan bahwa rakyat akan melawan dengan "diam" namun tetap menjalankan sekolah tersebut. Tekanan yang begitu besar memaksa Belanda mencabut peraturan itu setahun kemudian.
​✔️Warisan Abadi: Trilogi Kepemimpinan.
​Hingga akhir hayatnya, Ki Hajar Dewantara mewariskan prinsip kepemimpinan pendidikan yang menjadi fondasi pendidikan Indonesia hingga hari ini:
👉​Ing Ngarsa Sung Tulada: Di depan memberi teladan.
👉​Ing Madya Mangun Karsa: Di tengah membangun semangat.
👉​Tut Wuri Handayani: Di belakang memberikan dorongan.
​
Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa mendidik adalah proses "menuntun" kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Tanggal lahirnya, 2 Mei, kini kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional untuk menghormati jasa beliau yang telah menyalakan pelita di tengah kegelapan penjajahan.
24/04/2026
Hari terakhir ujian adalah garis finis perjuanganmu. Tetap tenang, fokus, dan kerjakan dengan maksimal, karena hasil tidak akan mengkhianati usaha yang sudah kamu lakukan selama ini. Percayalah pada dirimu sendiri, kamu sudah berjuang sejauh ini, selesaikan dengan keyakinan penuh. Hari ini hari terakhir, pastikan kamu keluar dari ruang ujian tanpa penyesalan
24/04/2026
Hari ke-4 ujian sekolah adalah momen krusial, tetap fokus, tenang, dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Capek itu wajar, namun menyerah bukan pilihan; jadikan hari ini kesempatan untuk memberikan yang terbaik. Sedikit lagi menuju garis finish, tetap semangat!
22/04/2026
Tetap semangat di hari ke-3! Ujian adalah maraton, bukan sprint. Pertahankan fokus, jaga kesehatan, dan percayalah bahwa usaha keras tidak akan mengkhianati hasil. Anda sudah melewati 2 hari pertama dengan baik, selesaikan sisanya dengan penuh keyakinan dan doa. Sukses untuk hari ini!
21/04/2026
Selamat Hari Kartini 2026! Teruslah menjadi cahaya bagi diri sendiri dan sekitar, karena perempuan berpendidikan adalah investasi terbaik bagi bangsa."Jangan biarkan kegelapan menghalangi cahayamu. Teruslah belajar, berdaya, dan bermimpi besar. Habis gelap terbitlah terang."
#