07/12/2020
HALUSINASI BENNY WENDA SOAL PEMISAHAN PAPUA DARI PANGKUAN IBU PERTIWI
Oleh All Indonesian Lives Matter
“Indonesia Kaya Raya!” kata-kata itu bukanlah sebuah jargon, bukan juga sebuah dongeng atau isapan jempol belaka. Indonesia kaya raya memang nyata adanya. Dari Sabang sampai Merauke Bumi Indonesia ini mengandung kekayaan yang tidak bisa dihitung nilainya. Andai ada lautan emas dan seribu gunung berlian terhampar luas di hadapan kita, maka nilai keduanya tidak akan sebanding dengan kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Mulai dari kekayaan alam, kekayaan budaya, kearifan lokal hingga kekayaan nilai-nilai luhur. Indonesia mempunyai semuanya!
Namun sayang, kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia ini adalah ancaman bagi pihak-pihak Asing, Apalagi jika kekayaan itu dapat dikelola dengan baik, sudah pasti Indonesia akan menjadi negara Superpower yang kuat. Dalam kajian Geopolitik atau Geostrategi, posisi Indonesia yang strategis membuat Indonesia menjadi “wilayah emas” yang menguntungkan jika dapat dikuasai. Bahkan dapat menjadi ancaman bagi negara lain apabila Indonesia sampai Berjaya, menjadi negara maju yang kuat.
Di Lautan Indonesia punya potensi perikanan yang berlimpah, Indonesia juga jadi jalur perdagangan laut yang strategis, belum lagi sumber daya alam bawah laut yang tiada dua. Di daratan tak kalah kaya, Bumi Indonesia mengandung unsur-unsur logam tanah jarang yang langka di dunia, selain itu banyak juga Sumber daya alam seperti minyak bumi, batu bara hingga protleum dan gas. Tanah-tanah di nusantara amat subur, saking suburnya hampir semua jenis tanaman pasti akan hidup subur di Indonesia.
Jika kamu pernah belajar mengenai Geopolitik, kamu pasti akan paham mengapa Kejayaan Indonesia dapat jadi ancaman bagi pihak-pihak tertentu. Karena itulah pihak-pihak asing tadi akan melakukan segala macam cara agar Indonesia tidak Berjaya, mereka akan melakukan apa saja asal Indonesia binasa.
Salah satu cara yang paling mudah adalah menyerang Indonesia dengan melakukan “Devide at Impera” atau Politik pecah belah. Strategi itu adalah cara yang ampuh, sebab kebhinekaan dan keberagaman (suku, agama, ras, pandangan politik hingga budaya dan adat Istiadat) adalah objek yang paling rawan mengalami gesekan atau benturan. Devide at impera ini juga lah yang menjadi alasan mengapa Belanda berhasil menjajah Indonesia selama ratusan tahun lamanya.
Memecah belah suatu bangsa yang beraneka ragam adalah cara yang sudah sejak lama digunakan untuk merebut atau menguasai sumber-sumber daya yang ada pada suatu bangsa. Pasca merdeka, berulang kali negara kita coba di rongrong, coba dipecah belah dengan berbagai macam cara. Untungnya kita masih utuh hingga saat ini, merah putih masih berkibar dari Sabang sampai Merauke, Indonesia Raya tetap berkumandang dengan penuh khidmat.
Kendati demikian, sejumlah ancaman masih mengintai keutuhan bangsa kita. Seperti radikalisme dan Separatisme yang masih kerap kita jumpai, berlagak seolah mereka perkasa di bumi Indonesia ini. Padahal mereka hanya “semut kecil” yang dibekingi oleh pihak asing, dengan misi menceraiberaikan dan merongrong persatuan bangsa Indonesia.
Seperti yang terjadi di belahan Timur Indonesia, tepatnya di Papua, Bumi Cendrawasih, Tanah elok sejuta pesona yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sudah sejak lama coba di pisahkan dari pangkuan Ibu pertiwi. Alasannya sederhana, Papua adalah “Jantungnya” Bangsa Indonesia, selain kaya raya dengan segala potensi yang ada, Papua adalah bagian wilayah kedaulatan bangsa Indonesia. Jika wilayah kedaulatan suatu bangsa berhasil direbut oleh pihak asing, maka bangsa itu tidak akan berdaulat lagi. Marwah dan harga diri bangsa akan lenyap di kangkangi asing!
Pihak-pihak asing yang tak jelas wujudnya itu sangat cerdik dan licik, mereka tau bila memecah belah secara langsung, maka pasti akan mendapatkan perlawanan sengit dari bangsa Indonesia. Sehingga mereka membuat proxy, membekingi agent-agent nya yang secara khsus dibayar untuk menjual kedaulatan bangsanya sendiri, seperti Veronica Koman, Benny Wenda, dan kawan kawan satu komplotannya.
Mereka terus “berhalusinasi” mengenai pemisahan Papua dari Indonesia, yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum Internasional yang di akui oleh Perserikatan Bangsa Bangsa beserta seluruh negara anggotanya. Berdasarkan New York Aggrement 1962, Hukum Internasional sudah mengakui bahwa Papua atau Papua Barat yang sebelumnya adalah wilayah jajahan Belanda merupakan bagian dari kedaulatan Indonesia. Hal ini bahkan di perkuat dengan adanya Pepera (Penetuan Pendapat Rakyat) di tahun 1969 yang hasilnya adalah mayoritas masyarakat Papua lebih memilih bergabung dengan Indonesia. Jelas ini merupakan landasan legal yang membuat Papua tidak bisa lagi di utak-atik dari pangkuan Ibu Pertiwi.
Selama ini narasi narasi yang mereka bangun jelas-jelas sangat keliru dan menyesatkan, bukan nya memberi solusi konkret mereka justru cenderung senang membesar-besarkan konflik yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya masyarakat Papua. Padahal jika kita bicara masalah ketimpangan, ketidakadilan dan ketertinggalan, Pemerintah Indonesia dari masa ke masa tidak sama sekali diam berpangku tangan, mereka justru sudah mengupayakan yang terbaik untuk seluruh rakyat Indonesia, dari Aceh sampai ke Papua. Bahkan secara khusus Pemerintah Indonesia membangun Papua dengan cinta dan perhatian, seperti membangun Infrastruktur fisik yang membelah gunung dan hutan belantara agar masyarakat di pedalaman bisa bersekolah, mengakses pelayanan publik, kesehatan, dan membangun Sumber daya manusia Papua dengan pemerataan pembangunan dan pendidikan. Namun pernahkan upaya dan hasil kerja negara di apresiasi oleh kelompok-kelompok pro asing itu? Nyatanya tidak sama sekali! Mereka justru menutup mata pada hasil kerja nyata pemerintah Indonesia.
Sehingga sangat konyol apabila pada 1 Desember kemarin Benny Wenda (Tokoh separatis) mendeklarasikan pemerintahan sementara Papua Barat yang dia sebut merdeka dari Indonesia. jelas-jelas apa yang dilakukan Wenda adalah tindakan ngawur yang telah menciderai nilai-nilai hukum Internasional, terutama hukum kedaulatan territorial suatu bangsa yang diakui PBB. Deklarasi Wenda ini saja nyatanya banyak ditolak oleh masyarakat Papua sendiri.
Justru kita perlu bertanya pada Benny Wenda, mengapa ia begitu ngotot ingin Papua merdeka? Apakah kemerdekaan adalah satu-satunya jalan bagi Papua? Apakah ada jaminan Papua sejahtera jika berpisah dari Indonesia? Jawabannya sudah jelas TIDAK SAMA SEKALI. Jauh lebih baik apabila kita bersatu bersama-sama membangun Papua, membangun Indonesia dan mensejahterakan rakyat ketimbang bicara soal kemerdekaan yang penuh halusinasi.
Lihatlah sudah banyak negara yang menjadi contoh, hancur lebur akibat separatisme atau pemisahan wilayah kedaulatan nya. Sebut saja Yugoslavia yang dulu digdaya, justru kini terpecah-pecah menjadi negara berdasar Suku (Serbia, Bosnia, Chech dll) setelah ada separatisme disana. Bahkan ketika proses pemisahan wilayah itu berlangsung konflik berdarah antara Serbia-Bosnia meletus hebat mewarnai kehancuran Negara Yugoslavia. Apakah kamu tega membuat Bangsamu sendiri terpecah-pecah seperti itu?
Yang patut kita pertanyakan adalah, mengapa Benny Wenda mendeklarasikan kemerdekaan Papua dari luar negeri (dari Negeri Inggris)? Mengapa ia tidak berjuang membangun Papua, terjun langsung ke lapangan untuk membantu masyarakat Papua jika dia merasa ada ketimpangan disana? Dari situ saja kita sudah bisa melihat, bahwasanya Benny Wenda memang agent pro-Asing yang dibekingi pihak-pihak tertentu, tanpa sadar Benny Wenda telah berkooptasi menjual kedaulatan bangsanya sendiri, menjual kedaulatan tanah Papua pada pihak Asing.
Bangun rakyat Indonesia! Bangun! Kita sedang coba di pecah belah! kita sedang coba di buat tidak Berjaya, agar menjadi bangsa yang sibuk bertikai satu sama lain. Bangunlah bangsa Indonesia! Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote kita semua adalah satu kesatuan, kita adalah saudara sebangsa yang lahir dari Rahim Ibu Pertiwi!
Jangan biarkan pihak-pihak tertentu memecah belah kita, jangan mau di adu domba dan jangan mau di provokasi. Separatisme adalah halusinasi berbahaya yang akan membuat suatu bangsa, beserta rakyatnya masuk ke dalam jurang kekacauan dan penderitaan. Sementara kita bertikai pihak pihak Asing justru mulai melancarkan aksinya mengeruk semua yang kita miliki sampai habis tak bersisa.
Mari berfikir cerdas.. Mempertahankan kedaulatan Bangsa dan negara adalah suatu kewajiban yang mutlak bagi seluruh elemen masyarakat.
Harta yang hilang masih dapat dicari kembali, namun jika tanah air yang hilang, kemanakah kita akan pergi?
Maka dari itu Bersatulah! Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!!!!!!!