Sejarah Indonesia

Sejarah Indonesia

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Sejarah Indonesia, Education, Indramayu.

04/01/2022

PASUKAN MAYAT HIDUP RUSIA 😱

Pada tanggal 6 Agustus 1915, terjadi sebuah peristiwa dramatis sekaligus mencengangkan. Sebuah peperangan singkat yang dramatis terjadi antara pasukan Kekaisaran Rusia dengan pasukan Kekaisaran Jerman. Saat itu pihak Jerman yang dipimpin oleh Paul Von Hindenburg, mengerahkan sebanyak 7000 pasukan. Pasukan Jerman saat itu menggunakan gas beracun guna menyerang pasukan Rusia yang bertahan di benteng Osowiec.

Prajurit Kekaisaran Rusia yang bertahan tidak memiliki masker gas dan banyak yang terbunuh secara langsung. Kala itu pasukan Jerman mengira bahwa semua prajurit Rusia yang bertahan telah tewas karena efek gas beracun, hingga akhirnya sekitar 7000 prajurit Jerman mulai bergerak mendekat menuju ke benteng Osowiec.

Ketika pasukan Jerman mulai mendekat di garis pertahan pertama, mereka kaget dengan serangan balasan dari sekitar 100 prajurit Rusia yang tersisa, pasukan Rusia saat itu penuh dengan darah layaknya mayat hidup.

Wujud pasukan Rusia itupun sangat mengerikan dengan kulit yang mengelupas karena luka bakar disertai dengan kain berlumuran darah sebagai masker gas, kondisi mereka pun diperburuk dengan batuk darah karena efek gas beracun. Gambaran mengerikan ini membuat banyak tentara Jerman mengira bahwa pasukan Rusia yang mereka hadapi adalah hantu dari tentara yang mereka bunuh.

Akhirnya pasukan Jerman yang panik dan terkejut mundur secara penuh hanya karena serangan balasan dari 100 prajurit yang terkena efek gas beracun, berkat aksi tersebut 7000 infanteri Jerman mundur kembali ke posisi awal mereka. Tragedi ini disebut "The Attack of the Dead Man".

17/08/2021

Selamat HUT RI ke 76

22/05/2021

Otsus Dorong Kemajuan dan Kesejahteraan Papua. Kebijakan otonomi khusus (Otsus) Papua menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Bumi Cenderawasih.












13/02/2021

No baper

orde baper

07/12/2020

HALUSINASI BENNY WENDA SOAL PEMISAHAN PAPUA DARI PANGKUAN IBU PERTIWI
Oleh All Indonesian Lives Matter

“Indonesia Kaya Raya!” kata-kata itu bukanlah sebuah jargon, bukan juga sebuah dongeng atau isapan jempol belaka. Indonesia kaya raya memang nyata adanya. Dari Sabang sampai Merauke Bumi Indonesia ini mengandung kekayaan yang tidak bisa dihitung nilainya. Andai ada lautan emas dan seribu gunung berlian terhampar luas di hadapan kita, maka nilai keduanya tidak akan sebanding dengan kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Mulai dari kekayaan alam, kekayaan budaya, kearifan lokal hingga kekayaan nilai-nilai luhur. Indonesia mempunyai semuanya!

Namun sayang, kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia ini adalah ancaman bagi pihak-pihak Asing, Apalagi jika kekayaan itu dapat dikelola dengan baik, sudah pasti Indonesia akan menjadi negara Superpower yang kuat. Dalam kajian Geopolitik atau Geostrategi, posisi Indonesia yang strategis membuat Indonesia menjadi “wilayah emas” yang menguntungkan jika dapat dikuasai. Bahkan dapat menjadi ancaman bagi negara lain apabila Indonesia sampai Berjaya, menjadi negara maju yang kuat.

Di Lautan Indonesia punya potensi perikanan yang berlimpah, Indonesia juga jadi jalur perdagangan laut yang strategis, belum lagi sumber daya alam bawah laut yang tiada dua. Di daratan tak kalah kaya, Bumi Indonesia mengandung unsur-unsur logam tanah jarang yang langka di dunia, selain itu banyak juga Sumber daya alam seperti minyak bumi, batu bara hingga protleum dan gas. Tanah-tanah di nusantara amat subur, saking suburnya hampir semua jenis tanaman pasti akan hidup subur di Indonesia.

Jika kamu pernah belajar mengenai Geopolitik, kamu pasti akan paham mengapa Kejayaan Indonesia dapat jadi ancaman bagi pihak-pihak tertentu. Karena itulah pihak-pihak asing tadi akan melakukan segala macam cara agar Indonesia tidak Berjaya, mereka akan melakukan apa saja asal Indonesia binasa.

Salah satu cara yang paling mudah adalah menyerang Indonesia dengan melakukan “Devide at Impera” atau Politik pecah belah. Strategi itu adalah cara yang ampuh, sebab kebhinekaan dan keberagaman (suku, agama, ras, pandangan politik hingga budaya dan adat Istiadat) adalah objek yang paling rawan mengalami gesekan atau benturan. Devide at impera ini juga lah yang menjadi alasan mengapa Belanda berhasil menjajah Indonesia selama ratusan tahun lamanya.

Memecah belah suatu bangsa yang beraneka ragam adalah cara yang sudah sejak lama digunakan untuk merebut atau menguasai sumber-sumber daya yang ada pada suatu bangsa. Pasca merdeka, berulang kali negara kita coba di rongrong, coba dipecah belah dengan berbagai macam cara. Untungnya kita masih utuh hingga saat ini, merah putih masih berkibar dari Sabang sampai Merauke, Indonesia Raya tetap berkumandang dengan penuh khidmat.

Kendati demikian, sejumlah ancaman masih mengintai keutuhan bangsa kita. Seperti radikalisme dan Separatisme yang masih kerap kita jumpai, berlagak seolah mereka perkasa di bumi Indonesia ini. Padahal mereka hanya “semut kecil” yang dibekingi oleh pihak asing, dengan misi menceraiberaikan dan merongrong persatuan bangsa Indonesia.

Seperti yang terjadi di belahan Timur Indonesia, tepatnya di Papua, Bumi Cendrawasih, Tanah elok sejuta pesona yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sudah sejak lama coba di pisahkan dari pangkuan Ibu pertiwi. Alasannya sederhana, Papua adalah “Jantungnya” Bangsa Indonesia, selain kaya raya dengan segala potensi yang ada, Papua adalah bagian wilayah kedaulatan bangsa Indonesia. Jika wilayah kedaulatan suatu bangsa berhasil direbut oleh pihak asing, maka bangsa itu tidak akan berdaulat lagi. Marwah dan harga diri bangsa akan lenyap di kangkangi asing!

Pihak-pihak asing yang tak jelas wujudnya itu sangat cerdik dan licik, mereka tau bila memecah belah secara langsung, maka pasti akan mendapatkan perlawanan sengit dari bangsa Indonesia. Sehingga mereka membuat proxy, membekingi agent-agent nya yang secara khsus dibayar untuk menjual kedaulatan bangsanya sendiri, seperti Veronica Koman, Benny Wenda, dan kawan kawan satu komplotannya.

Mereka terus “berhalusinasi” mengenai pemisahan Papua dari Indonesia, yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum Internasional yang di akui oleh Perserikatan Bangsa Bangsa beserta seluruh negara anggotanya. Berdasarkan New York Aggrement 1962, Hukum Internasional sudah mengakui bahwa Papua atau Papua Barat yang sebelumnya adalah wilayah jajahan Belanda merupakan bagian dari kedaulatan Indonesia. Hal ini bahkan di perkuat dengan adanya Pepera (Penetuan Pendapat Rakyat) di tahun 1969 yang hasilnya adalah mayoritas masyarakat Papua lebih memilih bergabung dengan Indonesia. Jelas ini merupakan landasan legal yang membuat Papua tidak bisa lagi di utak-atik dari pangkuan Ibu Pertiwi.

Selama ini narasi narasi yang mereka bangun jelas-jelas sangat keliru dan menyesatkan, bukan nya memberi solusi konkret mereka justru cenderung senang membesar-besarkan konflik yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya masyarakat Papua. Padahal jika kita bicara masalah ketimpangan, ketidakadilan dan ketertinggalan, Pemerintah Indonesia dari masa ke masa tidak sama sekali diam berpangku tangan, mereka justru sudah mengupayakan yang terbaik untuk seluruh rakyat Indonesia, dari Aceh sampai ke Papua. Bahkan secara khusus Pemerintah Indonesia membangun Papua dengan cinta dan perhatian, seperti membangun Infrastruktur fisik yang membelah gunung dan hutan belantara agar masyarakat di pedalaman bisa bersekolah, mengakses pelayanan publik, kesehatan, dan membangun Sumber daya manusia Papua dengan pemerataan pembangunan dan pendidikan. Namun pernahkan upaya dan hasil kerja negara di apresiasi oleh kelompok-kelompok pro asing itu? Nyatanya tidak sama sekali! Mereka justru menutup mata pada hasil kerja nyata pemerintah Indonesia.

Sehingga sangat konyol apabila pada 1 Desember kemarin Benny Wenda (Tokoh separatis) mendeklarasikan pemerintahan sementara Papua Barat yang dia sebut merdeka dari Indonesia. jelas-jelas apa yang dilakukan Wenda adalah tindakan ngawur yang telah menciderai nilai-nilai hukum Internasional, terutama hukum kedaulatan territorial suatu bangsa yang diakui PBB. Deklarasi Wenda ini saja nyatanya banyak ditolak oleh masyarakat Papua sendiri.

Justru kita perlu bertanya pada Benny Wenda, mengapa ia begitu ngotot ingin Papua merdeka? Apakah kemerdekaan adalah satu-satunya jalan bagi Papua? Apakah ada jaminan Papua sejahtera jika berpisah dari Indonesia? Jawabannya sudah jelas TIDAK SAMA SEKALI. Jauh lebih baik apabila kita bersatu bersama-sama membangun Papua, membangun Indonesia dan mensejahterakan rakyat ketimbang bicara soal kemerdekaan yang penuh halusinasi.

Lihatlah sudah banyak negara yang menjadi contoh, hancur lebur akibat separatisme atau pemisahan wilayah kedaulatan nya. Sebut saja Yugoslavia yang dulu digdaya, justru kini terpecah-pecah menjadi negara berdasar Suku (Serbia, Bosnia, Chech dll) setelah ada separatisme disana. Bahkan ketika proses pemisahan wilayah itu berlangsung konflik berdarah antara Serbia-Bosnia meletus hebat mewarnai kehancuran Negara Yugoslavia. Apakah kamu tega membuat Bangsamu sendiri terpecah-pecah seperti itu?

Yang patut kita pertanyakan adalah, mengapa Benny Wenda mendeklarasikan kemerdekaan Papua dari luar negeri (dari Negeri Inggris)? Mengapa ia tidak berjuang membangun Papua, terjun langsung ke lapangan untuk membantu masyarakat Papua jika dia merasa ada ketimpangan disana? Dari situ saja kita sudah bisa melihat, bahwasanya Benny Wenda memang agent pro-Asing yang dibekingi pihak-pihak tertentu, tanpa sadar Benny Wenda telah berkooptasi menjual kedaulatan bangsanya sendiri, menjual kedaulatan tanah Papua pada pihak Asing.

Bangun rakyat Indonesia! Bangun! Kita sedang coba di pecah belah! kita sedang coba di buat tidak Berjaya, agar menjadi bangsa yang sibuk bertikai satu sama lain. Bangunlah bangsa Indonesia! Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote kita semua adalah satu kesatuan, kita adalah saudara sebangsa yang lahir dari Rahim Ibu Pertiwi!

Jangan biarkan pihak-pihak tertentu memecah belah kita, jangan mau di adu domba dan jangan mau di provokasi. Separatisme adalah halusinasi berbahaya yang akan membuat suatu bangsa, beserta rakyatnya masuk ke dalam jurang kekacauan dan penderitaan. Sementara kita bertikai pihak pihak Asing justru mulai melancarkan aksinya mengeruk semua yang kita miliki sampai habis tak bersisa.

Mari berfikir cerdas.. Mempertahankan kedaulatan Bangsa dan negara adalah suatu kewajiban yang mutlak bagi seluruh elemen masyarakat.

Harta yang hilang masih dapat dicari kembali, namun jika tanah air yang hilang, kemanakah kita akan pergi?

Maka dari itu Bersatulah! Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!!!!!!!


10/11/2020
Photos 04/07/2020

Halo para membaca Ensiklopedia bebas club
Kali ini akan Admin membahas asal-usul nama Indonesia, bagaimana sejarahnya. mari kita bahas.

Menurut sejarawan Universitas Oxford, Peter Carey, nama Indonesia muncul dan diperkenalkan James Richardson Logan (1819-1869) tahun 1850 dalam Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia.

adalah orang Skotlandia yang menjadi editor majalah Penang Gazette, wilayah Straits Settlement-kini Negara Bagian Penang, Malaysia-yang bermukim di sana kurun waktu 1842-1847.

"Indonesia" berasal dari dua kata Yunaniyaitu, Indus (Ἰνδός) yang berarti "India" dan kata Nesos (νῆσος) yang berarti pulau/kepulauan, maka "Indo-nesia" berarti "kepulauan India"

Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia ("nesos" dalam bahasa Yunani berarti "pulau"). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis (diterjemahkan ke Bahasa Indonesiadari Bahasa Inggris):

"... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia"".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (sebutan Srilanka saat itu) dan Maldives (sebutan asing untuk Kepulauan Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayudipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan yang sekarang dikenal sebagai Indonesia, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf udigantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.[2] Dan itu membuktikan bahwa sebagian kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah orang India, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab di Eropa.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologidan geografi.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.[2]

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bondmembentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesiëdiresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak. Sementara itu, Kamus Poerwadarminta yang diterbitkan pada tahun yang sama mencantumkan lema nusantara sebagai bahasa Kawi untuk "kapuloan (Indonesiah)".

Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.

Sumber: Wikipedia, Tribunnews

-abbas

01/07/2020

Tatang Koswara (lahir di Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat, 12 Desember 1946 – meninggal di Jakarta, 3 Maret 2015 pada umur 68 tahun) adalah seorang Sniper atau penembak runduk TNI-AD terbaik Indonesia.
Dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons karya Peter Brookesmith terbitan 2000, nama Tatang masuk dalam daftar 14 besar Sniper’s Roll of Honour di dunia. Dalam catatan tersebut ia mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53, dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41.

Sumber referensi Wikipedia

Photos 10/03/2020

Banuabicara – Kerajaan Belanda mengakui telah melakukan kekerasan yang berlebihan di Indonesia pada masa penjajahan sehingga Raja Belanda Willem Alexander dengan didampingi Ratu Belanda Maxima Zorreguieta Cerruti menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf kepada Indonesia atas masa kelam itu. “Saya melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa rasa sakit dan kesedihan keluarga-keluarga yang terdampak masih dirasakan sampai saat ini,” kata Raja Willem Alexander dalam pernyataan bersama dengan Presiden Jokowi di Istana Kepresiden Bogor, Selasa 10 Maret 2020.

Raja Belanda menyampaikan penyesalannya dan permohonan maaf untuk kekerasan yang berlebihan selama bertahun-tahun itu.

Raja Belanda menambahkan, 75 tahun lalu pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengumumkan Proklamasi, dan menuntut tempat di antara negara-negara yang bebas dan merdeka.

Raja Alexander menyatakan Pemerintah Belanda secara tegas telah mengakui kemerdekaan tersebut, baik secara politik maupun secara moral, 15 tahun yang lalu. “Hari ini kami dengan penuh kehangatan mengucapkan selamat pada rakyat Indonesia pada saat perayaan 75 tahun kemerdekaan,” kata Raja.

Menurut dia, merupakan tanda yang sangat menjanjikan bahwa dua negara yang sebelumnya pernah berada di pihak yang berlawanan dapat menjalin hubungan yang semakin erat dan mengembangkan sebuah hubungan baru berdasarkan rasa hormat, saling percaya, dan persahabatan.

Dalam kunjungannya selama empat hari sejak hari ini, Raja dan Ratu Belanda mengaku sangat menantikannya.

Kunjungan kali ini mempunyai program yang menarik dan berorientasi ke masa depan. Pada saat yang bersamaan, merupakan sesuatu yang baik tetap menghadapi sejarah yang tidak bisa dihapus dan perlu diakui setiap generasi pada waktunya.

Source:

Follow &

Photos 10/03/2020

Raja Belanda menyampaikan permintaan maaf kepada Indonesia atas aksi kekerasan yang dilakukan militer Belanda pascaproklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945.

Hari ini (10/03), di hadapan Presiden Joko Widodo, Raja Belanda Willem-Alexander berkata, “Saya sadar, luka dan duka keluarga yang terkena dampaknya masih terus terasa hingga hari ini,” lanjutnya.

Permintaan maaf serupa sudah pernah dilakukan sebelumnya. Bukan atas penjajahan, namun merujuk pada usaha perebutan kembali kekuasaan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Pada 1995, Ratu Beatrix menyebut peristiwa itu “membuat kami sangat sedih”. Sepuluh tahun kemudian, pada 16 Agustus 2005, Menlu Belanda Bernard Bot menghadiri peringatan 60 tahun kemerdekaan Indonesia di Istana Negara dan menyebut kehadirannya bisa dianggap sebagai penerimaan perayaan kemerdekaan Indonesia ‘secara politik dan moral’.

Selanjutnya pada 2011 dan 2013, pemerintah Belanda melalui duta besarnya menyampaikan permintaan maaf atas peristiwa Rawagede dan Westerling, lalu memberikan uang ganti rugi untuk keluarga korban dua pembantaian tersebut.

Selama ini Belanda tak mengakui kemerdekaan Indonesia jatuh pada 17 Agustus 1945, namun pada 27 Desember 1949 saat penyerahan kedaulatan di Amsterdam.

Bagaimana reaksi korban Westerling? Baca di: https://bbc.in/2VZML6Z

Sejarah Desa Patrol Indramayu 09/03/2020

Sharing

Sejarah Desa Patrol Indramayu Desa harus jadi kekuatan ekonomi Agar warganya tak hijrah ke kota Sepinya desa adalah modal utama Untuk bekerja dan mengembangkan diri

Want your school to be the top-listed School/college in Indramayu?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Indramayu