28/03/2021
Detik Detik Kilang RU VI Pertamina Balongan Meledak | 86News
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from SMK N 1 Balongan, School, Indramayu.
25/12/2016
http://www.medanbagus.com/read/2016/11/29/43864/Gawat,-Ribuan-Rumah-di-Kecamatan-Pangkalan-Susu-Retak-Akibat-Survey-Seismik-PT-Elnusa-
MedanBagus.com | Gawat, Ribuan Rumah di Kecamatan Pangkalan Susu Retak Akibat Survey Seismik PT Elnusa Ribuan rumah di Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, mengalami retak-retak di bagian dinding bangunan setelah kegiatan Survey Seismik yang dilakukan oleh PT Elnusa.Menurut pengakuan Warga sekitar, sebelumnya mereka dijanjikan mendapatkan dana kompensasi, namun sampai kini belum menerima apap...
25/12/2016
Puluhan Rumah di Susukan Retak Akibat Proyek Seismik Pertamina CIREBON- Puluhan rumah di Desa Luwung Kencana, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon retak-retak pada dindingnya, akibat adanya proyek Seismik…
25/12/2016
http://metro-online.co/ratusan-rumah-di-langkat-retak-retak-akibat-survey-seismik/
Ratusan Rumah di Langkat Retak-retak Akibat Survey Seismik – Metro-Online.Co Ratusan Rumah di Langkat Retak-retak Akibat Survey Seismik by adminmetro | @ | November 29, 2016 2:14 pm Twitter Facebook Google+ LinkedIn Pinterest 0 Ratusan Rumah di Langkat Retak Akibat Survey SeismikSeratusan rumah di Desa Sei Siur dan Desa Sei Meran, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat,...
Kami Segenap Admin Mengucapkan Minal Aidin Walfaidin,Mohon Maaf Lahir Dan Batin
12/10/2013
Yuk yang punya vespa bawa aja ke smk nesaba biar tambah banyak yang bawa
vespa club
Semoga yang melaksanakan UN tahun ini lulus 100%
H-2 Menuju UN.Makin semangat belajar ya,temen temen Nesaba
Semoga hasilnya memuaskan :)
Saat ini adalah era digital. Demikian juga dalam dunia pendidikan. Mudah, Murah, Masal, Minat, dan Mandiri, merupakan 5M yang saat ini menjadi tren dalam pendidikan, pelatihan atau program keahlian yang ditawarkan. SEAMEO Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC) adalah lembaga yang didirikan oleh Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara pada 1997. Lembaga ini menawarkan kemudahan belajar dengan cara Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Aktualisasi program SEAMOLEC dalam mengikuti perkembangan teknologi pendidikan yang membawa dampak global, seperti yang saat ini tengah menjadi tren, yaitu penyelenggaraan pendidikan/pelatihan dengan model Massive Open Online Course (MOOC). Kemasan pendidikan yang ditawarkan pada prinsipnya adalah mampu menghasilkan kompetensi keahlian, dengan mempertimbangkan beberapa faktor: 1) Mudah diakses secara online, 2) Murah dalam biaya, 3)Masal (massive) tidak ada pembatasan peserta, 4) Minat terhadap pelatihan sangat ditentukan oleh kompetensi yang spesifik dan menjawab kebutuhan pasar kerja, dan 5) Mampu meningkatkan kompetensi keahlian sesuai kebutuhan. MOOC mampu menjawab kebutuhan akan kesempatan belajar seluas luasnya. MOOC mampu menyediakan pilihan pendidikan/pelatihan sehingga memberikan pilihan sesuai dengan kebutuhan. Hal ini dijawab SEAMOLEC melalui pengembangan program yang disebut sebagai
“SEA EduNet 2.0 dan SEA Twin”. SEAMOLEC sebagai lembaga regional yang melayani negara-negara Asia Tenggara,
mengembangkan program tersebut dengan fokus pembelajaran berbasis e- learning dan jejaring sosial yang dikemas untuk proses belajar aktif dan kolaboratif, memberikan kemudahan akses dan model pembelajaran yang menganut sistem flexible learning atau yang sering disebut dengan learning anywhere, anytime, and anyone. Sejak Februari tahun 2013, program ini diawali dengan sosialisasi berupa seminar dan pelatihan/workshop di beberapa daerah di Indonesia maupun Asia Tenggara. SEA EduNet 2.0 dan SEA Twin memiliki peran terbesar yang mampu mengintegrasikan empat aspek dalam pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yaitu: metode penyampaian, pengembangan
konten, komunikasi, dan evaluasi. Keempat aspek tersebut dikemas dalam sebuah sistem pembelajaran yang terintegrasi, sebagai berikut:
1) Edmodo, merupakan platform sistem penyampaian (delivery system) berbasis web jejaring sosial untuk pembelajaran. Keunggulan Edmodo adalah dalam manajemen pembelajaran online, kemudahan navigasi, mempermudah jalinan netwoking khususnya antarpendidik, pelajar, dan orang tua, serta dapat menjadi media evaluasi yang interaktif.
2) SEAMOLEC Multi Studio (SMS), dimanfaatkan untuk pengembangan bahan ajar berbasis video, baik untuk siaran langsung via internet (online streaming/realtime), maupun berdasarkan kebutuhan saat itu (on demand) yang sudah terlebih dahulu direkam dan disimpan dalam server.
3) Buku Elektronik (digitalbook), sebagai bahan ajar yang diakses secara offline melalui perangkat bergerak, seperti smartphone, tablet, dan laptop.
4) Web Seminar (Webinar), sebagai media komunikasi jarak jauh berbasis internet untuk menyelenggarakan online conference/seminar.
5) SEACyberClass, didedikasikan untuk ujian semi-online yang memungkinkan pelaksanaan evaluasi yang kontinu. Jenis pendidikan/pelatihan yang telah dikembangkan oleh SEAMOLEC dalam SEAEduNet 2.0, dapat diakses melalui web di http:// odl.seamolec.org . Pelaksanaan Pelatihan “SEA Edunet 2.0: Aplikasi Model Pembelajaran Era Digital” akan dilaksanakan selama 5 hari bersamaan dengan Seminar “Model Pembelajaran Era Digital” di 17 Kabupaten/ Kota dalam 5 Propinsi, dengan target peserta adalah Guru SMA/SMK. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama pada April 2013 di Jombang, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Garut, Banyuwangi, Malang, Bandung, Blitar, Magelang, Jember, Kediri, Kudus, Kulon Progo, Bogor, Yogyakarta dan Pandeglang. Tahap berikutnya pada Mei 2013 di Kabupaten/Kota di Bali dan 14 Provinsi di luar Jawa (Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi). (adv) sumber : republika.co.id
Remaja AS Ciptakan Alat
untuk Deteksi Dini Kanker
Pankreas 21 Feb 17:37 | Julie Taboh Seorang
murid SMA
berusia 16
tahun
menciptakan sebuah tes
sederhana yang dapat mendeteksi tahap dini
kanker pankreas, terobosan
yang menjanjikan diagnosis
dan pengobatan lebih
efektif.
Jack Andraka dinyatakan sebagai pemenang hadiah
utama pada ajang
”International Science and
Engineering Fair”, kompetisi
SMA terbesar sedunia yang
diselenggarakan tahun lalu di Pittsburgh,
Pennsylvannia. Ia terlihat sangat senang.
Hal itu tidaklah
mengherankan karena
Andraka yang berusia 16
tahun dan tinggal di
Maryland merupakan peserta termuda kompetisi
sains dan menerima hadiah
utama sebesar 75.000 dollar.
Ia menyisihkan lebih dari
1.500 peserta lainnya dari 70
negara. Hasil ciptaan Jack
memenangkan kompetisi itu
yaitu, sebuah alat penguji
yang sederhana dan murah
yang dapat mendeteksi
tahap awal kanker pankreas. Ia tertarik untuk
membuat alat tersebut
setelah salah seorang
teman keluarganya
meninggal akibat kanker
tersebut. ”Saya membaca di internet
dan mendapati bahwa 85
persen kanker pankreas
terlambat dideteksi, ketika
seseorang dikatakan hanya
memiliki 2 persen kemungkinan hidup, saya
merasa itu tidak benar. Kita
seharusnya dapat
melakukan sesuatu,”
paparnya. Kanker pankreas adalah
salah satu jenis kanker
yang mematikan. Tahun
lalu, lebih dari seperempat
juta orang di dunia
meninggal akibat kanker tersebut, dan angka itu
semakin meningkat. Andraka memang akhirnya
melakukan sesuatu. Lewat
internet, ia mengetahui
bahwa kadar protein yang
disebut mesothelin dalam
kandungan darah pengidap kanker pankreas meningkat,
dan deteksi dini merupakan
kunci untuk menyelamatkan
penderita kanker itu. Dengan meminjam
laboratorium di Universitas
Johns Hopkins di Baltimore,
ia mengembangkan strip
kertas yang dapat
mendeteksi mesothelin yang ditemukan dalam
darah dan air seni, yang
dapat memberitahu adanya
kanker pankreas lebih dini
dibandingkan alat tes
sebelumnya. Alat penguji ciptaan
Andraka dinilai akurat
sebesar 90 persen.
”Sensor itu 400 kali lebih
sensitif, 168 kali lebih cepat
dan 26.000 kali lebih murah. Biaya tes ini hanya tiga sen
dan hanya membutuhkan
waktu lima menit,” paparnya
lagi. Dr. Anirban Maitra,
pembimbing Jack di
Universitas Johns Hopkins,
merupakan satu-satunya
orang dari 200 peneliti yang
bersedia menanggapi e-mail Jack tentang proyeknya
tersebut. Dr. Maitra mangatakan,
”Saya akui, awalnya saya
terkejut seorang remaja
berusia 15 tahun menulis e-
mail tersebut. Saya ingin
bertemu dengan anak berbakat ini dan
mendengarkan
presentasinya. Ia sangat
mengagumkan”. Pada tahun 2011, Dr Maitra
mengijinkan Jack
menggunakan
laboratoriumnya selama
tujuh bulan untuk
menyelesaikan proyek alat pengetesan itu. Sejak itu, Andraka telah
mematenkan alat tes kanker
pankreas tersebut dan
mengembangkannya
menjadi alat tes sederhana
yang dapat dijual di pasaran.
Dr Maitra, pembimbing
Andraka tidak heran dengan
ketenaran yang diraih
remaja berbakat itu. ”Nama Jack Andraka akan
terdengar dalam 10 hingga
20 tahun mendatang. Jika ia
bisa mencapai keberhasilan
pada usia 15 tahun, apa lagi
yang akan dilakukannya pada saat ia berusia 25 atau
35 tahun,” ujarnya kagum. Atau berapa banyak jiwa
lagi yang dapat
diselamatkan dari kanker
pankreas berkat alat tes
sederhana yang diciptakan
Jack Andraka ini? Semoga.
Indonesia Luncurkan
Laboratorium Uji Doping
Pertama 24 Feb 02:32 | R. Teja Wulan Indonesia
meluncurkan
laboratorium
pengujian
doping pertama yang
berada di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Institut Teknologi Bandung
(ITB) meluncurkan
laboratorium uji doping
yang pertama di Indonesia
dan akan segera mengajukan sertifikasi
internasional, untuk masuk
ke dalam jajaran
laboratorium berstandar
internasional untuk
pengujian penggunaan doping di dunia yang saat
ini berjumlah 34. Dalam peresmian
laboratorium tersebut baru-
baru ini, Menteri Negara
Pemuda dan Olahraga Roy
Suryo mengatakan
laboratorium tersebut diharapkan bisa menguji
lebih dari 3.000 sampel. ”Doping itu memang harus
diiringi dengan kemajuan
teknologi, karena yang
namanya sports science,
yang namanya
pengetahuan dalam bidang olahraga itu berkembang.
Ada zat yang bisa
dikategorikan doping, tapi
dulu tidak,” ujarnya. Sementara itu, Rektor ITB
Akhmaloka mengatakan ITB
akan mengajukan
permohonan rekomendasi
ke World Anti-Doping
Agency (WADA) di Jepang pertengahan tahun ini,
untuk mendapatkan
akreditasi internasional Tanpa akreditasi dari WADA,
laboratorium tersebut tidak
bisa menjadi labotarorium
doping, melainkan hanya
menjadi laboratorium kimia
atau farmasi biasa, ujarnya. Akhmaloka menambahkan,
sumber daya manusia yang
nantinya akan mengelola
laboratorium uji doping di
ITB cukup banyak. Mereka
terdiri dari para guru besar dan para doktor dari jurusan
farmasi, kimia, teknik kimia,
fisika, teknik lingkungan,
dan para ahli lainnya yang
terkait dalam bidang uji
doping, ujarnya. ”SDM-nya tidak masalah,
kalau SDM-nya itu karena
banyak guru besar, doktor-
doktor yang memang ahli
untuk bidang-bidang seperti
itu (pengujian doping),” ujar Akhmaloka. Laboratorium uji doping di
ITB dibangun dengan target
dapat digunakan pada
Pekan Olahraga Nasional
(PON) 2016 di Jawa Barat. Peralatan yang dimiliki
laboratorium ini diakui
belum lengkap, karena
peralatan khusus untuk
menguji sampel doping
tersebut tergolong mahal. Total rencana anggaran
biaya termasuk biaya
operasional laboratorium
dan pelatihan mencapai Rp
136 miliar. Seluruh
kebutuhan biaya itu akan dicairkan bertahap hingga
2016 mendatang. Sebelumnya, Indonesia
mengandalkan laboratorium
di Malaysia atau Jepang
untuk tes doping. Pengujian
di kedua negara tersebut
biayanya rata-rata sekitar Rp 2,9 juta Rupiah per
sampel, dengan waktu
pengujian selama satu
minggu.
Heritage Camp Ajak
Pemuda Lestarikan Warisan
Budaya 27 Feb 05:19 | Munarsih Sahana Pemuda dari
berbagai
daerah di
Indonesia
mengikuti
kegiatan Heritage Camp yang bertujuan
memperkenalkan beragam
warisan budaya di
Indonesia.
Sebanyak 35 pemuda dari
berbagai daerah di Indonesia telah
berpartisipasi dalam
kegiatan Heritage Camp,
tentang upaya melestarikan
warisan budaya oleh
generasi muda secara kreatif, diselenggarakan
oleh Lontara Project dan
mahasiswa Universitas
Gadjah Mada, yang bermitra
dengan AFS Bina Antar
Budaya dan disponsori oleh United States Council. Kegiatan Heritage Camp
berlangsung di Pondok
Pemuda Ambarbinangun
Yogyakarta selama empat
hari, berakhir Senin malam
(25/2), bertujuan memperkenalkan kembali
beragam warisan budaya di
Indonesia dan upaya
bagaimana melestarikannya
dengan cara kreatif dan
kekinian sesuai dengan pola pikir anak muda. Project Manager Heritage
Camp Anggita Paramesti
mengatakan, para peserta
mengikuti sesi dengan
narasumber para praktisi
pelestarian dan pengembangan budaya
diantaranya sutradara Garin
Nugroho, Komikus Is
Yuniarto, musisi Djaduk
Ferianto dan pendiri Yogya
Heritage Society Laretna Adhisakti. Anggita menegaskan,
tujuan Heritage Camp yang
baru pertama
diselenggarakan adalah
mencari cara pelestarian
budaya yang kreatif oleh generasi muda. ”Kuncinya di kata
konservasi kreatif, begitu.
Itu karena selama ini ya
banyak yang ingin
konservasi tetapi caranya
yang salah. Makanya kita ingin tahu cara konservasi
yang kreatif itu seperti apa
yang bermanfaat bagi
orang banyak, yang bisa
lebih dan memperkenalkan
kembali budaya yang kita miliki,” ujar Anggita. Salah satu narasumber,
komikus asal Surabaya Is
Yuniarto mengajak peserta
mengembangkan kreativitas
agar budaya yang dianggap
kuno oleh anak muda bisa menjadi produk yang
menarik dan sesuai dengan
kondisi masa kini. Yuniarto
sendiri telah membuat serial
komik Garudayana yang
bersumber pada wayang klasik dengan tampilan
yang modern. ”Membuat karakter wayang
yang tidak disukai anak-
anak zaman sekarang,
dimana mereka mungkin
menganggap wayang
sebagai sesuatu yang kuno, bagaimana
mengembangkan kreatifitas,
bagaimana
mengembangkan sesuatu
yang diangkat dari
kebudayaan bisa menjadi budaya populer yang
sesuai dengan kekinian,”
ujarnya. Peserta dari Nusa Tenggara
Timur , Osvaldo Jimkelly
Lameng yang sedang studi
di Institut Seni Indonesia (ISI
Yogyakarta) merasa
didorong semakin mencintai segala aspek budaya
daerahnya. Dengan mengikuti Heritage
Camp bersama pemuda dari
berbagai daerah di
Indonesia ia terinspirasi
untuk memproduksi film
dokumenter mengenai budaya NTT yang kini
semakin diminati banyak
orang menyusul makin
populernya pulau Komodo,
sekaligus untuk tugas akhir
studinya di ISI. ”Terpilihnya komodo
sebagai salah satu
keajaiban dunia, nah dari
situ banyak orang mencari
tahu tentang budaya NTT.
Karena itu saya ingin mempelajari lebih apa yang
dipunyai oleh NTT sendiri,”
ujar Osvaldo. Sementara itu, peserta dari
Maros, Sulawesi Selatan,
Nur Azmah Musa menjadi
semakin bersemangat
melakukan penelitian
naskah kuno Bugis La Galigo. Di forum Heritage
Camp, Nur Azmah bertemu
dengan narasumber ahli
naskah kuno yang
mendorong untuk
melengkapi penelitian nya mengenai La Galigo. Di
forum tersebut ia belajar
banyak tentang budaya
daerah lain di Indonesia
dari para peserta. ”Yang ada di sini memiliki
latar belakang budaya
masing-masing (daerah).
Dengan adanya ini kami
bukan hanya mempelajari
budaya lain daerah tapi juga solusi bagaimana
melestarikan budaya yang
ada di Indonesia,” ujarnya. Para peserta juga
melakukan studi lapangan
dan menyusun rencana aksi
mengenai upaya
pelestarian budaya di
wilayah masing-masing.