Ternyata masih banyak yang belum bisa membedakan Kombel dengan KKG.
Pendidikan Sejati
#PendidikanSejati #HomeEducation #PendidikanKeluarga #FitrahManusia #FitrahKehidupan #BackToFitrah
22/02/2026
Setiap anak adalah pembelajar sejati yang tangguh dan hebat. Jika anak tidak s**a belajar, sebetulnya telah terjadi penyimpangan pada fitrahnya.
SEJARAH YANG TERULANG!
Karena Tak S**a Menghafal, Einstein Kecil Dianggap Bodoh oleh Gurunya
16/02/2026
Ada sebuah ironi dalam sejarah pendidikan.
Seorang anak yang kelak mengguncang dunia dengan pemikirannya, pernah dianggap “bodoh” oleh gurunya sendiri. Anak itu adalah Albert Einstein.
Di sekolahnya, Einstein kecil tidak menonjol sebagaimana standar yang diharapkan. Ia tidak menyukai hafalan tanpa makna. Ia tidak nyaman dengan jawaban yang harus diterima tanpa dipertanyakan. Ia sering diam, merenung, lalu mengajukan pertanyaan yang tidak biasa. Dalam sistem pendidikan yang kaku, yang menuntut kepatuhan dan keseragaman, sikap seperti itu dianggap masalah.
Einstein tidak s**a dengan metode pendidikan hafalan, yang membuatnya terlihat tidak berguna atau sulit diatur oleh guru-gurunya, bukan karena ketidakmampuan intelektual.
Sistem saat itu mengukur kecerdasan dari kemampuan menghafal, mengikuti instruksi, dan menjawab sesuai pola yang telah ditentukan. Anak yang berpikir berbeda, yang ingin memahami sampai ke akar, justru terlihat lambat dan tidak patuh. Maka lahirlah label: tidak berbakat, tidak akan berhasil.
Sejarah seakan terulang kembali hari ini. Di tengah semangat perubahan, masih banyak guru yang mengandalkan metode hafalan semata, bahkan dengan bangga mengampanyekan pentingnya hafalan perkalian di media sosial. Seolah-olah semakin cepat dan banyak hafalan, semakin tinggi p**a kecerdasan. Padahal, hafal belum tentu paham.
Lebih keras Einstein menegaskan bahwa mereka adalah manusia, bukan well-trained dogs.
Kritik ini disampaikan dalam esainya yang berjudul "Education for Independent Thought" (1952). Ia menekankan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak tenaga ahli yang mahir secara teknis, tetapi juga individu yang memiliki pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan keindahan.
(Part 4/4) Behavioristik
Perspektif Islam tentang potensi manusia
Dalam Islam, manusia tidak lahir kosong. Setiap manusia lahir membawa fitrah yaitu potensi bawaan yang mengarah pada pengenalan terhadap Allah dan kecenderungan pada kebaikan.
Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abi Hurairah R.A.:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.
Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi orang Yahudi, orang Nasrani ataupun orang Majusi”
Dalam Al-Qur'an, kata fitrah disebutkan sebanyak 28 kali, 14 kali disebut dalam konteks tentang bumi dan langit, dan 14 kali disebut dalam konteks pembicaraan manusia yang berkaitan dengan fitrah penciptaan maupun fitrah keagamaan. Kita akan bahas pelan-pelan, karena akan sangat panjang jika ditulis sekaligus di sini.
Jadi dalam Islam menunjukkan :
* Ada potensi bawaan (fitrah).
* Lingkungan memang berpengaruh. Tetapi manusia bukan produk lingkungan semata.
* Ada keterlibatan Tuhan dalam penciptaan dan penetapan potensi.
Dalam perspektif ini, pendidikan bukan sekadar membentuk perilaku, tetapi menumbuhkan potensi yang sudah Allah tanamkan.
(Part 3/4) Behavioristik
Karakteristik Behaviorisme:
* Tidak menganggap potensi bawaan, justru menekannya agar dapat dibentuk sesuai keinginan
* Tidak membahas aspek metafisik (jiwa, ruh, fitrah).
* Menghindari pembahasan tentang Tuhan karena dianggap di luar wilayah sains empiris.
Jika pandangan ini diterapkan secara ekstrem dalam pendidikan, maka:
* Anak dianggap produk lingkungan semata.
* Pendidikan fokus pada kontrol, reward–punishment (penghargaan-hukuman).
* Keunikan dan potensi personal tidak dihargai.
* Guru cenderung menjadi “pengendali perilaku”, bukan penumbuh potensi.
* Manusia direduksi menjadi mesin respons.
(Part 2/4) Behavioristik
Behaviorisme memang masih banyak menjadi rujukan guru dalam mendidik anak, karena memang dipelajari dalam perkuliahan dan diturunkan juga oleh gurunya semasa sekolah.
Maka, pentinglah pemikiran manusia dipandu Kitabullah dan Sunnah sebagai sumber kebenaran. Sehingga dapat berpikir kritis, apakah teori itu pasti benar dan harus digunakan atau cukup sebagai referensi.
Seperti halnya ilmu membuka gembok tanpa kunci, boleh dipelajari untuk mencegah maling masuk, tapi tidak digunakan untuk membuka gembok orang lain.
(Part 1/4) Behavioristik
Pandangan Behavioristik menekankan bahwa perilaku manusia dibentuk oleh lingkungan melalui stimulus dan respons.
Pandangan ini dipelopori tokoh seperti John B. Watson dan B.F. Skinner. John B. Watson bahkan menyatakan bahwa dengan kontrol lingkungan yang tepat, ia bisa “membentuk” anak menjadi profesi apapun.
Behaviorisme mengukur perilaku yang tampak dan bisa diamati, sehingga mengeluarkan Tuhan dari wilayah kajian ilmiah karena tidak bisa diuji secara eksperimental.
Jadi apapun petunjuk Tuhan melalui firman-Nya sama sekali tidak dianggap. Dan hasil pendidikannya-pun seolah-olah hasil bentukannya, tidak ada campur tangan Tuhan.
Padahal dalam Islam, pengetahuan manusia itu terbatas yang menyebabkan pemikirannya juga terbatas. Allah melihat manusia dari prosesnya, bukan pada hasil, karena hasil bukan kuasa manusia.
13/02/2026
Di atas kertas, sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka telah mencapai 90% (dataset 15 Januari 2025). Namun, fakta implementasi di lapangan hanya berhenti pada pelatihan dan administratif, tidak sampai pembelajaran di kelas.
Kalau benar menerapkan Kurikulum Merdeka, mari kita jawab dengan jujur.
1. Apakah guru diberi otonomi dalam pembelajaran? Apakah asesmen (soal) dibuat oleh guru atau diseragamkan?
2. Apakah tujuan pembelajaran disusun oleh guru sesuai kebutuhan murid atau diseragamkan atau copy-paste dari sekolah lain?
3. Filosofi Ki Hajar Dewantara dipraktikkan atau sekadar pajangan?
“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”
Apakah guru benar-benar menuntun, atau masih mengontrol?
Apakah murid diberi ruang bertumbuh sesuai kodratnya, atau tetap ditekan mengejar target angka?
4. Apakah berfokus pada kompetensi dan karakter atau hanya mengejar konten?
5. Apakah pembelajaran berdiferensiasi (mengakui bahwa setiap murid memiliki potensi masing-masing)?
6. Apakah asesmen sebagai alat belajar, atau alat menghukum dan me-ranking?
7. Apakah jam pelajaran dibuat fleksibel atau ditentukan?
8. Apakah kelas sudah berubah dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada murid?
9. Apakah murid diberi ruang berpikir, atau masih sekadar menerima?
10. Apakah guru benar-benar merdeka, atau hanya berganti format administrasi?
Kalau jawaban tidak sesuai dengan prinsip kurikulum merdeka artinya kurikulum merdeka belum betul-betul diterapkan. Namun banyak yang menyalahkan kurikulum merdeka atas kegagalan yang terjadi. Jadi kegagalan yang terlihat itu buah kurikulum merdeka atau kurikulum zaman penjajahan? Atau jangan-jangan yang kita butuhkan bukan perubahan kurikulum, tapi perubahan pada guru dan orang-orang yang merasa terancam karena kehilangan kontrol dan kekuasaan?
13/02/2026
Waduh, hati-hati pak Guru nanti banyak yang tersesat seperti postingan sebelumnya tentang hafalan perkalian.
Pertanyaannya apakah konsep perkalian hanya berlaku untuk bilangan bulat saja pak Guru?
Sangat tidak konsisten jawabannya,
1/2 kali sejauh 6 langkah artinya 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2 + 1/2 = 3
Berseberangan dengan postingan Pak Guru yang menganggap 2 x 5 = 2 + 2 + 2 + 2 + 2 + 2 adalah ❌ (salah)
Betul memang dalam aturan Aljabar 2 x 5 = 5 + 5 tapi tidak menyalahkan 2 + 2 + 2 + 2 + 2 karena ada sifat komutatif perkalian.
2 x 5 = 2 + 2 + 2 + 2 + 2
Bisa juga,
2 x 5 = 5 x 2 (sifat komutatif)
= 5 + 5
Sekarang pindah ke Bahasa Indonesia mengenai "Dikali" dan "Di kali", kayanya tidak perlu dijelaskan lagi ya, mana yang menyatakan keterangan tempat.
Soal "kali" dan "dikali"
"kurang" dan "dikurang"
"tambah" dan "ditambah"
"bagi" dan "dibagi"
Masalahnya dimana kira-kira?
Maka, inilah pentingnya pemahaman yang utuh daripada sekedar hafal perkalian. Cek pada postingan sebelumnya.
Hati-hati pak Guru, postingan pak Guru sangat menginspirasi untuk di-copas dan di-share.
10/02/2026
"Halah, cuma teori."
Kalimat yang biasa dilempar pemuja praktik yang menjebakkan diri dalam pikirannya sendiri. Padahal pikiranmu (bersumber dari teori) yang menentukan langkahmu. Salah teori, salah melangkah. Ternyata Trump telah menginspirasi banyak orang "Yeah, there is one thing. My own morality. My own mind. It's only thing that can stop me. I don't need internasional law. I'm not looking to hurt People." Terlihat seperti kebaikan "Saya tidak berniat menyakiti orang lain." tapi di sisi lain kebaikan yang diterjemahkan semaunya sendiri "Pikiran saya sendiri. Hanya itu yang bisa menghentikan saya."
Oke, nanti kita bahas itu di lain kesempatan. Kali ini kita ingin share penjelasan teori yang menarik dari Bpk Rachmat Hidayat tentang Menghafal tak sama dengan Mengingat. Cek di kolom komentar.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Address
Indramayu