17/08/2025
Banyak orang tua salah kaprah menganggap pubertas hanya soal perubahan fisik. Padahal, transisi ini adalah salah satu fase paling menentukan dalam pembentukan identitas, kepercayaan diri, bahkan cara anak menghadapi dunia. Fakta menariknya, menurut penelitian dalam The Storm in the Middle: Understanding Adolescence karya Laurence Steinberg, otak remaja berkembang lebih cepat dalam area emosi dibandingkan dengan area pengendalian diri. Artinya, ledakan emosi yang sering dianggap “nakal” atau “keras kepala” itu sebenarnya adalah kondisi biologis, bukan sekadar sikap.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat anak yang tadinya manis tiba-tiba jadi s**a membantah, lebih tertutup, atau bahkan menarik diri. Contoh sederhana, seorang anak perempuan yang baru mengalami menstruasi mungkin lebih sensitif terhadap komentar ringan, sementara anak laki-laki yang suaranya berubah bisa minder ketika ditertawakan. Jika orang tua hanya menanggapi dengan marah atau meremehkan, anak bisa merasa tidak dipahami. Itulah mengapa persiapan menghadapi pubertas bukan tugas instan, melainkan perjalanan penuh kesadaran dan empati.
1. Pengetahuan tentang perubahan fisik
Dalam Puberty: What’s Happening to Me? karya Anita Naik, dijelaskan bahwa anak akan lebih siap jika mereka tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Anak perempuan perlu tahu tentang siklus menstruasi dan kebersihan diri, sementara anak laki-laki perlu memahami perubahan suara, pertumbuhan rambut, dan mimpi basah. Banyak orang tua canggung membicarakan hal ini, padahal jika dibiarkan, anak bisa mencari informasi dari sumber yang salah.
Contohnya, ada anak laki-laki yang mengira mimpi basah adalah tanda penyakit karena tidak ada penjelasan dari orang tua. Ia pun menjadi takut tidur. Pengetahuan yang sederhana dan jelas bisa mencegah kecemasan seperti ini. Orang tua tidak harus menjadi “dokter”, cukup jujur dan terbuka. Menjelaskan dengan bahasa yang sesuai usia justru akan membuat anak merasa dihargai.
2. Ruang aman untuk bertanya
Dalam Untangled karya Lisa Damour, remaja disebut membutuhkan tempat yang aman untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan mereka. Banyak anak merasa malu atau takut dianggap bodoh ketika bertanya soal seksualitas atau emosi. Jika orang tua sering menghakimi, anak akan menutup diri dan mencari jawaban dari luar rumah.
Misalnya, anak perempuan yang penasaran tentang perubahan payudara bisa bertanya kepada teman sebaya yang sama-sama tidak tahu, alih-alih bertanya pada ibunya. Ini berbahaya karena bisa menciptakan mitos dan salah kaprah. Orang tua perlu melatih diri untuk menahan reaksi spontan. Alih-alih berkata “jangan mikir yang aneh-aneh”, lebih baik menjawab dengan data sederhana, lalu membuka diskusi lebih luas.
3. Pemahaman tentang emosi
Dalam Emotional Intelligence karya Daniel Goleman, dijelaskan bahwa pubertas adalah momen penting bagi perkembangan kecerdasan emosional. Anak seringkali lebih emosional, mudah tersinggung, atau meledak-ledak. Bagi orang tua, ini terlihat seperti drama berlebihan, padahal sebenarnya otak mereka memang sedang beradaptasi.
Contoh nyata, seorang anak laki-laki bisa marah besar hanya karena dipanggil dengan julukan yang dulu dianggap lucu. Jika orang tua menganggap itu lebay, anak merasa semakin terasing. Mengajarkan cara mengenali, memberi nama, dan mengekspresikan emosi secara sehat adalah bekal yang jauh lebih berharga daripada sekadar melarang marah.
4. Pendidikan seks yang sehat
Buku The Whole-Brain Child karya Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson menekankan pentingnya edukasi seks sejak dini dalam konteks kesehatan dan relasi. Pubertas membawa anak pada rasa penasaran tentang tubuh lawan jenis, dan jika tidak diarahkan, mereka bisa mendapatkan informasi keliru dari internet.
Contohnya, banyak remaja belajar seks pertama kali dari video pornografi yang justru memperkuat persepsi salah tentang relasi. Jika orang tua berani membicarakan seks dengan sehat, anak akan tahu perbedaan antara cinta, nafsu, dan eksploitasi. Topik yang sering dianggap tabu justru bisa jadi ruang diskusi penuh kepercayaan.
5. Dukungan pada harga diri
Dalam Reviving Ophelia karya Mary Pipher, remaja digambarkan sebagai individu yang sedang rapuh karena tekanan sosial dan standar kecantikan yang tidak realistis. Anak perempuan bisa minder karena jerawat, sementara anak laki-laki bisa merasa tertekan karena tubuhnya tidak sekuat teman-temannya.
Contoh sederhana, seorang anak yang dibandingkan dengan saudaranya bisa merasa tidak berharga. Jika orang tua hanya fokus pada prestasi atau penampilan, anak akan belajar menilai dirinya dari standar luar. Dukungan, apresiasi, dan afirmasi sederhana bisa membantu anak merasa dirinya cukup, tanpa harus jadi orang lain.
6. Kebiasaan sehat dan disiplin
Menurut Spark: The Revolutionary New Science of Exercise and the Brain karya John Ratey, aktivitas fisik bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga membantu mengatur mood remaja. Sayangnya, banyak anak di usia pubertas justru lebih sering duduk di depan layar dibanding bergerak.
Misalnya, anak yang mengalami stres karena sekolah bisa merasa lebih tenang setelah rutin olahraga ringan. Namun jika dibiarkan tanpa arahan, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di gadget. Orang tua perlu ikut terlibat, misalnya dengan bersepeda bersama atau mengajak olahraga kecil di rumah. Kebiasaan ini bukan hanya soal kesehatan, tapi juga memperkuat ikatan keluarga.
7. Nilai dan arah hidup
Dalam The Seven Habits of Highly Effective Teens karya Sean Covey, dijelaskan bahwa masa pubertas adalah titik penting untuk menanamkan nilai. Anak butuh kompas moral, bukan sekadar aturan. Mereka akan menghadapi godaan rokok, minuman, hingga pergaulan bebas. Jika tidak dibekali nilai yang jelas, mereka mudah terseret arus.
Contoh kasus, seorang remaja bisa ikut tawuran bukan karena ia s**a kekerasan, melainkan karena ia tidak punya prinsip yang jelas. Diskusi terbuka tentang nilai hidup membantu anak membangun fondasi untuk membuat keputusan yang lebih sehat. Orang tua tidak bisa hanya berkata “jangan lakukan itu”, mereka perlu memberi alasan yang logis dan mengaitkan dengan kehidupan nyata.
Pubertas bukan masa yang harus ditakuti, melainkan kesempatan untuk membangun jembatan komunikasi antara orang tua dan anak. Pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan diri untuk mendampingi mereka dengan bijak? Jika menurutmu tulisan ini bermanfaat, bagikan pada temanmu dan tulis di komentar apa pengalamanmu menghadapi anak yang sedang puber.
Mau konten eksklusif tentang parenting yang lebih tajam dan berbasis riset? Langsung berlangganan di logikafilsuf.