Pondok Lirboyo

Pondok Lirboyo

Share

Akun Resmi Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur - Indonesia
"Santri lek mulih ojo lali ngadep dampar." -KH. Abdul Karim

"Santri lek mulih ojo lali ngedep dampar"
KH. Abdul Karim

Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien berdiri pada tahun 1925 M. Berkembang menjadi Pusat Pendidikan Islam yang lebih khusus dalam memberi pembekalan materi keagamaan Islam.

Muharram: Awal Tahun Islam dan Sejarah Lahirnya Kalender Hijriah - Lirboyo.net 17/06/2026

Kalender hijriah merupakan sistem penanggalan Islam yang didasarkan pada siklus peredaran bulan mengelilingi bumi (qamariyah). Pergantian harinya dimulai setelah terbenamnya matahari (maghrib) Dengan sistem penanggalan ini jumlah hari dalam setahun mencapai 354 hari selisih 11 hari dengan kalender Masehi yang berjumlah 365 hari.
Lantas bagaimana sejarah pembuatan kalender hijriah? apakah sudah ada sejak zaman Nabi ataukah pada masa khulafaur rasyidin?

Muharram: Awal Tahun Islam dan Sejarah Lahirnya Kalender Hijriah - Lirboyo.net Kalender hijriah merupakan sistem penanggalan Islam yang didasarkan pada siklus peredaran bulan mengelilingi bumi (qamariyah).

17/06/2026

Sebuah Dialog Pengantin Baru
Kisah Ayah Imam Malik
Seringkali, saat ekspektasi keduniawian kita runtuh di hadapan realita, jiwa kita langsung bergolak, mengutuk keadaan, dan bersiap untuk berbalik arah melarikan diri. Kita sering lupa bahwa skenario Tuhan tidak pernah ditulis berdasarkan selera kelopak mata kita yang tak ada habisnya ini.
Lembaran sejarah Islam klasik mencatat sebuah drama spiritual yang bergetar dahsyat. Kisah ini melibatkan ayah dari Imam Malik—salah satu poros ilmu dunia, pendiri Mazhab Maliki yang agung.
Suatu hari, sang ayah melangkah ke kamar pengantinnya dengan dada yang dipenuhi bayangan keindahan visual wanita yang diidamkannya. Namun, begitu tirai disingkap, seketika ekspektasinya luluh lantak. Di hadapannya, berdiri seorang wanita berkulit hitam, yang parasnya sama sekali tidak sesuai dengan lukisan kecantikan di benaknya.
Kecewa? Tentu saja. Ego kelaki-lakiannya seketika tersungkur. Di dalam dadanya bergemuruh penolakan. Ia terhentak, duduk termenung di sudut kamar, mengunci diri dalam keheningan, dan enggan melangkah mendekati istrinya. Malam pertama yang harusnya menjadi gerbang keintiman, berubah menjadi ruang sidang batin yang mencekam bagi lelaki itu.
Namun, di sanalah keajaiban itu dimulai. Sang istri, yang sadar bahwa fisiknya ditolak oleh sang suami, tidak meratap, tidak p**a membalas dengan kemarahan serta balasan kekecewaan. Wanita ini diberkahi Tuhan sebuah senjata yang amat mahal, yakni kecerdasan spiritual yang luar biasa.
Dengan ketenangannya, wanita itu mendekati suaminya, lalu mengetuk kesadaran sang lelaki melalui sebaris pertanyaan yang menghunjam, merobek seluruh kesombongan logika laki-laki. Wanita itu bertanya:
هل استخرت ربك؟ أتَتَّهمُ ربك؟
"Apakah engkau telah memohon istikharah kepada Tuhanmu? Jika iya, lalu apakah engkau sedang berprasangka buruk dan menuduh pilihan Tuhanmu salah?"
Lelakinya dipaksa berkaca, jika ia mempercayai Tuhan dalam istikharah-Nya, mengapa ia harus mendebat bentuk takdir yang dikirimkan-Nya? Kesadaran imannya bangkit. Rasa rela menyusup ke dadanya, menggusur rasa benci menjadi ketundukan mutlak pada ketetapan Allah. Malam itu, ia menerima istrinya dengan kerelaan penuh.
Dan tahukah Anda apa kebaikan yang amat banyak yang Allah titipkan dari rahim pernikahan yang awalnya diiringi oleh ketidaksukaan tersebut? Dari rahim perempuan berkulit hitam yang sempat ditolak oleh lelaki itu, Allah melahirkan seorang manusia yang namanya abadi sampai kini yakni Imam Malik bin Anas. Seorang ulama besar dunia, sang pemilik madzhab, yang fatwa dan ilmunya menerangi jutaan umat hingga hari ini.
Lihatlah bagaimana cara Allah menentukan takdir. Rasulullah ﷺ jauh-jauh hari telah meletakkan fondasi psikologis ini bagi setiap hati yang mudah goyah dalam sebuah sabda yang agung:
لا يَفْرك مؤمنٌ مَؤمنة إن سخط منها خُلقَا رضي منها آخر
"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istri kalian). Jika ia tidak menyukai satu perangai (atau keadaannya), maka ia pasti akan rida dengan perangai (atau sisi) yang lain."
Seringkali, maksiat hati berupa ketidakpuasan membuat kita buta untuk melihat mutiara di dalam lumpur. Ayah Imam Malik hampir saja kehilangan takdir besarnya hanya karena penilaian kilat sebongkah mata. Allah sengaja membalikkan sudut pandangnya, memaksa akal sehatnya tunduk, agar ia tidak menjadi hamba yang merugi.
Terkait rahasia takdir ini, Imam Al-Wartajabi mengutip sebuah kalimat hikmah yang teramat halus dan menggetarkan jiwa:
غيب عنك العواقب لئلا تسكن إلى مألوف، ولا تفر من مكروه
"Allah sengaja menyembunyikan akhir (akibat) dari sebuah urusan darimu, agar hatimu tidak mudah merasa tenang pada hal-hal yang telanjur kau sukai, dan agar engkau tidak tergesa-gesa melarikan diri dari hal-hal yang telanjur kau benci."
Pada akhirnya, saat realita hidupmu esok hari berjalan melenceng dari peta rencana yang kau susun, atau saat kau dihadapkan pada sesuatu yang menguji kesabaran hatimu, ingatlah dari kisah ini. Serahkan kembali kendali hatimu pada Sang Pemilik Takdir.
Sebab, bagaimana mungkin engkau begitu berani mengutuk dan lari dari hal yang saat ini kau benci, sementara engkau sendiri tidak pernah tahu, jangan-jangan di balik rahim kesulitan atau ketidaksukaan yang sedang kau hadapi hari ini, Allah sedang mempersiapkan sebuah mahakarya kebaikan yang akan membuat air mata syukurmu tumpah di masa depan sebab saking bahagianya dirimu?
Referensi: Kitab: Al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Qur'an al-Majid Penulis: Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Al-Mahdi bin Ajiba al-Hasani al-Anjari al-Fasi as-Sufi (Wafat 1224 H)

17/06/2026

Tidak ada kata yang paling indah dan yang paling teduh, yang mampu melukiskan siapa sebenarnya peraih predikat haji mabrur, kecuali sebuah dialog hati yang telah abadi tertulis di tinta ulama kita. Dalam kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah, diceritakan bahwa seseorang pernah bertanya kepada seorang ulama tabi'in besar, Imam Hasan al-Bashri:

قَالَ رَجُلٌ لِلْحَسَنِ: يَا أَبَا سَعِيدٍ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُورُ؟ قَالَ: أَنْ تَرْجِعَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ

Baca selengkapnya di link bawah ini:

lirboyo.net

16/06/2026

Jangan mengeluh kepada orang lain. Ini nasihat beliau saat kita mempunyai sesuatu yang diinginkan.

16/06/2026

Khusyuk merupakan ruh salat. Gerakan salat mungkin dapat dilakukan oleh banyak orang, tetapi menghadirkan hati di hadapan Allah adalah perkara yang tidak mudah. Karena itu, ketika Allah menyebut ciri orang-orang beriman yang beruntung, yang pertama kali disebutkan adalah:
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
"Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya." (QS. Al-Mu'minun: 2)

lirboyo.net

16/06/2026

Sebagaimana sudah diketahui banyak orang bahwa pada bulan Muharam terdapat kesunahan puasa Tasu’a tgl 9 Muharam, puasa Asyura pada tanggal 10 Muharam dan puasa bulan Muharam terlebih tanggal 1-10 Muharam.

Berikut adalah penjelasan ulama terkait kesunahan puasa bulan Muharam tersebut.

Puasa Bulan Muharam

Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab fatwanya pernah ditanya terkait kebiasaan sebaian orang yang sangat memperhatikan puasa bulan Muharam, berikut pandangan beliau;

وَسُئِلَ نَفَعَ اللَّهُ بِهِ عَنْ صَوْمِ الْعَشْرِ الْأَوَّلِ مِنَ الْمُحَرَّمِ: هَلْ هُوَ مُسْتَحَبٌّ كَالتِّسْعِ الْأَوَّلِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ أَوْ لَا? وَطَوَائِفُ مِنْ أَهْلِ الْهِنْدِ لَا يَتْرُكُونَ صَوْمَهَا, وَلَا يُوَاظِبُونَ عَلَى صَوْمٍ مِثْلَ مُوَاظَبَتِهِمْ عَلَى صَوْمِهَا

"Beliau ditanya tentang puasa pada sepuluh hari pertama bulan Muharam: apakah puasa tersebut disunahkan sebagaimana sembilan hari pertama bulan Zulhijah atau tidak? Sebagian penduduk India tidak meninggalkan puasa pada hari-hari tersebut, dan mereka tidak begitu tekun menjalankan suatu puasa sebagaimana ketekunan mereka menjalankan puasa itu."

‎فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ نِعْمَ مَا فَعَلَ هَؤُلَاءِ فَإِنَّ صَوْمَ الْعَشْرِ الْأَوَّلِ مِنْ الْمُحَرَّمِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ بَلْ صَوْمُ الشَّهْرِ كُلِّهِ سُنَّةٌ كَمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ الْأَحَادِيثُ فَمِنْ ذَلِكَ خَبَرُ مُسْلِمٍ أَنَّهُ - ﷺ - قَالَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ قِيَامُ اللَّيْلِ» وَهُوَ صَرِيحٌ فِي أَنَّ أَفْضَلَ مَا تَتَطَوَّعُ بِهِ مِنْ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ صَوْمُ الْمُحَرَّمِ، وَحُمِلَ عَلَى أَنَّهُ أَفْضَلُ شَهْرٍ تُطَوَّعَ بِصَوْمِهِ كُلِّهِ لَا مُطْلَقًا فَإِنَّ صَوْمَ تِسْعِ ذِي الْحِجَّة أَفْضَلُ مِنْ صَوْمِ عَشْرِ الْمُحَرَّم

“Beliau menjawab; Sungguh baik apa yang mereka kerjakan sebab puasa sepuluh hari pertama bulan Muharam sangat dianjurkan bahkan sunah berpuasa pada seluruh bulan Muharam sebagaimana sebuah hadis; 'Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut Muharam. Dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam.'

Dengan jelas hadis tersebut menjelaskan bahwa puasa paling utama setelah Ramadan adalah puasa bulan Muharam.

Namun, hadis tersebut dipahami bahwa Muharam adalah bulan yang paling utama untuk berpuasa sunnah selama satu bulan penuh, bukan yang paling utama secara mutlak. Sebab, puasa sembilan hari pertama bulan Zulhijah lebih utama daripada puasa sepuluh hari pertama bulan Muharam."1

Kesimp**annya, terkait hadis keutamaan puasa bulan Muharam, Imam Ibn Hajar berpandangan bahwa keutamaan tersebut jika puasa bulan Muharam dilakukan satu bulan penuh, namun jika tidak dilakukan secara penuh, semisal hanya puasa pada tanggal satu sampai sepuluh maka puasa tanggal satu sampai sepuluh Zulhijah lebih utama.

Sementara itu, menurut Imam Ibn Rajab al-Hambali mengatakan bahwa maksud hadis tersebut adalah puasa mutlak yang dilakukan di bulan Muharam lebih utama daripada puasa mutlak yang dilakukan di bulan lain, artinya menurut beliau hadis tersebut tidak membandingkan dengan puasa yang dilakukan di hari-hari khusus seperti puasa Tarwiyah, Arafah dan puasa lain melainkan hanya membandingkan antara puasa mutlak.

Sebagaimana keterangan yang mengatakan bahwa salat sunah mutlak yang paling utama adalah salat mutlak yang dilakukan di malam hari.2

Mengawali dan Mengakhiri Tahun dengan Kebaikan

Salah satu keutamaan puasa bulan Muharam adalah untuk mengawali tahun dengan ketaatan, terlebih jika di bulan Zulhijah sudah memperbanyak puasa maka sangat bisa diharapkan orang tersebut selama setahun penuh buku catatannya akan ditulis sebagai kebaikan. keterangan tersebut selaras dengan hadis Nabi berikut:

مَا مِنْ حَافِظَيْنِ يَرْفَعَانِ إِلَى اللَّهِ صَحِيفَةً, فَيَرَى فِي أَوَّلِهَا وَفِي آخِرِهَا خَيْرًا, إِلَّا قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ: أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي مَا بَيْنَ طَرَفَيْهَا

"Tidaklah ada dua malaikat pencatat amal yang mengangkat sebuah catatan amal kepada Allah, lantas Allah melihat pada awal dan pada akhir catatan terdapat kebaikan, melainkan Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni hamba-Ku atas apa yang berada di antara kedua ujung catatan itu”3

Puasa Tasu’a dan Asyura

Kesunahan puasa Tasu’a dan Asyura telah dijelaskan oleh Imam Zainuddin al-Malibari dalam kitabFathul Mu’in:

‎وَ يَوْمُ (عَاشُورَاءَ): وَهُوَ عَاشِرُ الْمُحَرَّمِ, لِأَنَّهُ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ كَمَا فِي مُسْلِمٍ. (وَتَاسُوعَاءُ): وَهُوَ تَاسِعُهُ، لِخَبَرِ مُسْلِمٍ: «لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ». فَمَاتَ قَبْلَهُ. وَالْحِكْمَةُ: مُخَالَفَةُ الْيَهُودِ, وَمِنْ ثَمَّ سُنَّ لِمَنْ لَمْ يَصُمْهُ: صَوْمُ الْحَادِيَ عَشَرَ, بَلْ إِنْ صَامَهُ, لِخَبَرٍ فِيهِ. وَفِي الْأُمِّ: لَا بَأْسَ أَنْ يُفْرِدَهُ

"Sunah puasa pada hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharam, karena puasa pada hari itu menghapus dosa-dosa setahun yang lalu, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim. Dan juga hari Tasu'a, yaitu tanggal 9 Muharam, berdasarkan hadis riwayat Muslim:'Seandainya aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan.' Namun Nabi Saw. wafat sebelum datang tahun berikutnya.

Hikmah berpuasa pada hari kesembilan adalah untuk menyelisihi orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, disunnahkan bagi orang yang tidak berpuasa pada hari kesembilan untuk berpuasa pada hari kesebelas. Bahkan meskipun ia telah berpuasa pada hari kesembilan, tetap disunnahkan berpuasa pada hari kesebelas berdasarkan sebuah hadis mengenai hal itu.

Dalam kitab Al-Umm disebutkan: tidak mengapa jika hanya puasa Asyura saja"

Selain menjelaskan bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu beliau juga menyampaikan hikmah puasa Tasu’a yaitu untuk membedakan puasa orang muslim tanggal 10 yakni Asyura dengan puasa tanggal 10 orang yahudi.

Terkait hikmah tersebut Syaikh Abu Bakar Syato dalam komentarnya mengutip sebuah hadist riwayat Abu Hurairoh:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ افْتَرَضَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ صَوْمَ يَوْمٍ فِي السَّنَةِ، وَهُوَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ - وَهُوَ الْيَوْمُ الْعَاشِرُ مِنَ الْمُحَرَّمِ - فَصُومُوهُ، وَوَسِّعُوا عَلَى عِيَالِكُمْ فِيهِ، فَإِنَّهُ مَنْ وَسَّعَ فِيهِ عَلَى عِيَالِهِ وَأَهْلِهِ مِنْ مَالِهِ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ، فَصُومُوهُ.

“Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sungguh Allah telah mewajibkan kepada Bani Israil puasa satu hari dalam setahun, yaitu hari Asyura, hari kesepuluh bulan Muharam. Maka berpuasalah kalian pada hari itu, dan lapangkanlah nafkah untuk keluarga kalian pada hari tersebut. Karena sesungguhnya siapa yang melapangkan nafkah bagi keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggungannya dari hartanya pada hari Asyura, niscaya Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun. Maka berpuasalah kalian pada hari itu."

Sekian, semoga tulisan ini dapat menambah wawasan anda tentang puasa pada bulan Muharram sehingga dapat menambah semangat untuk menjalankan kesunahan puasa pada salah satu bulan yang di muliakan oleh Allah Swt.

Referensi:
1.Aḥmad bin Ḥajar al-Haitamī, al-Fatāwā al-Kubrā al-Fiqhiyyah, dihimpun oleh ‘Abd al-Qādir bin Aḥmad bin ‘Alī al-Fākihī al-Makkī, jil. 2 (Beirut: al-Maktabah al-Islāmiyyah, t.t.), hlm. 79.

2. Abd al-Raḥmān ibn Aḥmad Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Laṭā’if al-Ma‘ārif fīmā li Mawāsim al-‘Ām min al-Waẓā’if, tahqīq dan ta‘līq Ṭāriq bin ‘Awaḍ Allāh, cet. 1 (Beirut: al-Maktab al-Islāmī, 1428 H/2007 M), hlm. 66.

3. Ibid, hlm. 69.

4. ‘Uthmān bin Muḥammad Shattā al-Dimyāṭī al-Shāfi‘ī, I‘ānat al-Ṭālibīn ‘alā Ḥall Alfāẓ Fatḥ al-Mu‘īn, cet. 1 (Beirut: Dār al-Fikr li al-Ṭibā‘ah wa al-Nashr wa al-Tawzī‘, 1418 H/1997 M), Jilid. 2, hlm. 302.

15/06/2026

Sejak pukul 15.30 WIB, rombongan santri berbusana putih tampak memadati jalanan. Puluhan ribu santri dari berbagai pesantren, termasuk rombongan besar Pondok Pesantren Lirboyo, berjalan kaki dengan tertib menuju Balai Kota Kediri di Jalan Basuki Rahmat No. 15, Pocanan.

Baca selengkapnya di link bawah ini:

lirboyo.net

Istighotsah Akhir dan Awal Tahun 1448 H di Ponpes. Lirboyo 15/06/2026

Istighotsah Tahun Baru 1448 H. di Ponpes. Lirboyo
Pondok Pesantren Lirboyo kembali menggelar Istighotsah Akhir dan Awal Tahun Hijriah 1448 H pada Senin (15/06/2026). Sebagaimana tahun sebelumnya, Pondok Pesantren Lirboyo menyelenggarakan istighotsah di dua lokasi berbeda, yakni Masjid Kasepuhan Lawang Songo dan Masjid Al-Hasan.

https://lirboyo.net/istighotsah-akhir-dan-awal-tahun-1448-h-oleh-ribuan-santri-lirboyo/

Istighotsah Akhir dan Awal Tahun 1448 H di Ponpes. Lirboyo Ribuan santri Pondok Pesantren Lirboyo mengikuti Istighotsah Akhir dan Awal Tahun 1448 H di Masjid Kasepuhan Lawang Songo dan Masjid Al-Hasan

15/06/2026

Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 Hijriah.

Mari jadikan momentum pergantian tahun ini sebagai kesempatan untuk bermuhasabah, memperbaiki diri, serta memperbanyak doa dan ikhtiar dalam menggapai rida Allah SWT.

Semoga tahun yang baru ini membawa keberkahan, kesehatan, kedamaian, dan kemudahan bagi kita semua. Amin

#1448

Want your school to be the top-listed School/college in Kediri?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address


Jl. KH. Abdul Karim, Lirboyo, Mojoroto
Kediri
64117