From the river to the sea!
Slick Will 13
Passionate Educator
04/06/2026
22–27 Mei 2019. Kacau. Hanya satu kata itu yang kiranya dapat menggambarkan situasi dalam 6 hari itu.
Pada Maret 2024 lalu, ketika pemenang pemilu sudah ditetapkan dan kubu Baswedan serta Pranowo menggungat hasil itu, kubu Subianto meledek mereka habis-habisan.
"Kalah ya kalah aja," ujar mereka waktu itu.
Ah, barangkali unggahan ini dapat menjadi sedikit pengingat, bahwa sosok yang mereka puja pun sama sekali tak berbeda kelakuannya pada 5 dan 10 tahun sebelumnya, bahkan lebih parah. Ketika kubu Subianto menggungat hasil pemilu ke MK waktu itu, gerakan rakyat di akar rumput tampak jauh lebih masif dan organik.
Publik memandang akal pikirannya sedang dihina oleh mereka yang berkuasa dengan hasil pemilu yang tampak absurd itu. Jelas terjadi kecurangan, atau begitulah asumsi mereka — termasuk diriku sendiri.
Aku sama sekali tak malu untuk mengakui bahwa ya, aku pernah menjadi pendukung Subianto. Pada 2014, usiaku masih 16 tahun dan belum bisa ikut menyoblos, namun aku kerap membela Subianto pada diskusi-diskusi politik dengan rekan-rekan sekelas di SMA, yang 99%-nya pendukung Widodo garis keras. Sementara pada 2019, di usia 21 tahun, aku dengan kesadaran penuh menyucuk wajah orang yang pernah kabur ke Yordania itu.
Dan tentu kita tahu hasil yang keluar pada kedua pemilu itu. Subianto kalah, lalu pergi ke MK dan menggugat hasilnya. Bahkan guru sejarah di SMA-ku — seorang fanatik Widodo — sampai membawa-bawa peristiwa itu saat mengajar.
"Apa itu yang kek gitu itu? Tak berjiwa kesatria. Tak menerima kekalahan," ucapnya.
Tatkala panggilan untuk menggelar aksi demonstrasi ke Bawaslu Sumut datang, tentu aku ikut. Aku paling tak terima ketika nalar serta akal pikiranku dipermainkan oleh mereka yang berkuasa.
Dan benar saja, rangkaian aksi yang terjadi dalam kurun 6 hari dan digelar dari Sabang sampai Merauke itu berakhir dengan korban jiwa di ibu kota, penahanan ratusan peserta aksi, dipanggilnya Bang Angga Fahmi — waktu itu Ketua Umum IMM Kota Medan — oleh Polda Sumut, Kominfo yang membatasi akses sejumlah medsos (termasuk WhatsApp), sampai dijemputnya Buya Rafdinal, juga oleh aparat Polda Sumut. Luar biasa kacau dan mencekam! 🥶
What's with the G Thing?
Drive-by in first person is difficult 🗿
28/05/2026
9–18 Mei 2019. Seringkali kukatakan bahwa periodisasi kepemimpinan yang kujalani saat itu sebagai periode yang paling terkutuk sekaligus yang paling diberkahi. Paling terkutuk bersebab masa baktinya yang terletak di tahun-tahun politik (2018/2019), namun paling diberkahi bersebab mendapatkan privilese berupa 2 Ramadan.
Gagal total rencana kami untuk melaksanakan musyawarah komisariat sebelum atau paling tidak saat Ramadan. Terlalu banyak jumlah pimpinan — khususnya para perantau — yang tak bisa berhadir jika musyawarah tetap dipaksakan pada bulan suci itu.
Maka siapakah domba yang akan dikorbankan untuk itu? Tentu domba dari Bidang Dakwah, yang mau tak mau harus kembali bermitra dengan berbagai sekolah dalam pelaksanaan Pesantren Kilat Ramadan!
Asyik, uang masuk untuk kas komisariat. Atau begitukah?
Hal yang patut disyukuri kali ini adalah banyaknya jumlah instruktur yang berpartisipasi. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, aku sendiri juga bingung, kenapa kami bisa begitu nekat ber-PKR 12 bulan yang lalu.
Kali ini, tenaga tambahan banyak datang dari kamerad-kamerad 2018 (baca: kader baru). Namun seiring bertambahnya jumlah instruktur yang ada, plot twist pun terjadi.
Sekolah mitra pertama hendak mengadakan PKR dengan jumlah 9 kelas, dan masing-masing kelas akan diberikan 4 materi keislaman yang sama. Yang artinya, kami harus menyediakan 36 pemateri.
TIGA PULUH ENAM!
Bagaimana mungkin tak kubawa p**ang printer itu? Menghabiskan 24 jam di sekretariat pun tak akan cukup untuk menghubungi, mengonfirmasi, serta mencetak surat permohonan setelahnya.
Dan Ketua Bidangku? Eh bentar, aku punya? Ah, lupakan saja.
Pada akhirnya, PKR ini berjalan lancar, dan uang yang diterima juga sangat sepadan. Tak lupa p**a kuingatkan pada Bendahara Umum untuk segera menyegelnya. Aku khawatir akan ada tangan-tangan tak terlihat yang hendak mengambilnya dengan embel-embel utang.
Dan mustahil bagiku untuk bisa melupakan kamerad yang hampir saja mendirikan salat Magrib sebanyak 4 rakaat, serta berakhir menjadi barang contoh dalam pameran sang mentalis, Bang .refalino.
Ah, PKR, the best of memories. Take me back, please!
Muscle memory kicks in
Conspiracy theory of pharmacies 👀
How top speed works in GTA V
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Website
Address
Jln. Pukat II No. 53-D
Medan
20224