08/06/2026
Sebuah video viral yang menyayat hati: Seorang ayah bersujud minta maaf kepada publik atas tindakan anaknya di kampus. "๐๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ด๐ซ๐ช๐ฅ ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ด," ucapnya sambil menangis. ๐
Video ini menyentuh ketakutan terdalam kita sebagai orang tua. Bagaimana kalau kita sudah mendidik anak dengan nilai agama yang kuat, sudah menjaga mereka, tapi mereka tetap membuat keputusan fatal yang mempermalukan keluarga? Apakah artinya kita gagal sebagai ๐ฑ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ด?
Budaya kita bilang: "IYA." Tapi ๐๐ฉ๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐๐ฐ๐ณ๐ญ๐ฅ๐ท๐ช๐ฆ๐ธ memberikan perspektif yang membebaskan sekaligus menantang kita.
๐๐ธ๐ช๐ฑ๐ฆ sampai habis untuk memahami batasan tanggung jawab kita, dan bagaimana teologi Reformed membebaskan kita dari beban "kesempurnaan", untuk masuk ke dalam ๐ฑ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ๐จ yang berpusat pada anugerah dan kesetiaan. โก๏ธ
Masa remaja Gen Z penuh dengan benturan ๐ธ๐ฐ๐ณ๐ญ๐ฅ๐ท๐ช๐ฆ๐ธ, keraguan iman, dan krisis identitas. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri mencari jawaban di tempat yang salah.
Ketik "๐-๐๐ข๐ข๐" di kolom komentar dan pastikan kamu sudah ๐ง๐ฐ๐ญ๐ญ๐ฐ๐ธ @โlensahidup.id, kami akan kirimkan ๐-๐๐ฐ๐ฐ๐ฌ "๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ฅ๐ฒ๐บ๐ฎ๐ท๐ฎ ๐ ๐๐น๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฎ๐ด๐" GRATIS langsung ke DM kamu sekarang sebagai bekal mendampingi mereka! ๐
11/02/2026